Home / Umum / Hadis Tsaqalain tentang Dua Pusaka Peninggalan Nabi SAW

Hadis Tsaqalain tentang Dua Pusaka Peninggalan Nabi SAW

Hadis Tsaqalain (bahasa Arab: حديث الثقلين) adalah sebuah hadis yang sangat masyhur dan mutawatir dari Nabi Muhammad saw yang bersabda, “Sesungguhnya kutinggalkan dua pusaka bagi kalian, Kitab Allah (Alquran) dan itrahku (Ahlulbait). Keduanya tidak akan terpisah sampai hari kiamat.”

Hadis ini diterima oleh seluruh kaum Muslimin baik Syiah maupun Sunni, dan termaktub dalam kitab-kitab hadis dari kedua mazhab besar tersebut. Bagi muslim Syiah, hadis ini merupakan pegangan utama untuk menguatkan doktrin pentingnya keimamahan, menguatkan dalil kemaksuman para Imam as dan juga sebagai dalil yang menetapkan keharusan adanya imam di setiap zaman.

adis ini meski diriwayatkan dengan jalur yang berbeda, dan dengan bunyi teks yang beragam namun tetap mengandung muatan pesan yang sama. Dalam Ushul Kāfi, yang merupakan salah satu dari empat kitab utama mazhab Syiah menyebutkan:

إِنِّی تَارِک فِیکمْ أَمْرَینِ إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا- کتَابَ اللَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَ أَهْلَ بَیتِی عِتْرَتِی أَیهَا النَّاسُ اسْمَعُوا وَ قَدْ بَلَّغْتُ إِنَّکمْ سَتَرِدُونَ عَلَی الْحَوْضَ فَأَسْأَلُکمْ عَمَّا فَعَلْتُمْ فِی الثَّقَلَینِ وَ الثَّقَلَانِ کتَابُ اللَّهِ جَلَّ ذِکرُهُ وَ أَهْلُ بَیتِی

“Sesungguhnya aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua pusaka yang jika kalian mengambil (mengikuti) keduanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, (yaitu) Kitab Allah swt dan Ahlulbaitku dari keturunanku (itrahku). Wahai manusia, dengarlah dan sesungguhnya telah aku sampaikan kepada kalian bahwa sesungguhnya kalian akan menemuiku di tepi telaga (al-Haudh), maka aku akan mempertanyakan kalian, atas apa yang telah kalian perbuat terhadap dua pusaka berharga ini, yaitu Kitab Allah yang sangat agung penyebutannya dan Ahlulbaitku.”[1]

Sunan Nasai, salah satu dari enam kitab sahih Ahlusunah (kutub sittah), meriwayatkan:

کأنی قد دعیت فاجبت، انی قد ترکت فیکم الثقلین احدهما اکبر من الآخر، کتاب الله و عترتی اهل بیتی، فانظروا کیف تخلفونی فیهما، فانهما لن یفترقا حتی یردا علی الحوض

“seakan-akan ajalku sudah mendekat. Sesungguhnya telah aku tinggalkan pada kalian dua hal yang sangat berharga, yang salah satu lebih besar dari yang lainnya, (yaitu) Kitab Allah dan keturunanku (itrahku) Ahlulbaitku. maka lihat dan perhatikan bagaimana kalian memperlakukan keduanya. maka sesungguh keduanya tidak akan terpisah sampai kalian menemuiku di tepi telaga (al-Haudh).”[2]

Hadis ini termasuk dalam riwayat yang diterima oleh semua ulama Islam baik dari kalangan Syiah maupun Sunni, yang dari sisi sanadnya tidak seorangpun yang mampu melemahkan dan mengkritiknya.

Sumber dari Literatur Ahlusunah

Menurut kitab Hadits al-Tsaqalain wa Maqāmāt Ahl al-Bait [3], hadis Tsaqalain ini diriwayatkan lebih dari 25 orang perawi dari kalangan sahabat yang mendengarkan langsung dari Nabi Muhammad saw. Berikut di antara nama-nama sahabat yang meriwayatkan hadis Tsaqalain:

  1. Zaid bin Arqam. Darinya terdapat 6 jalur periwayatan sebagaimana yang tertulis dalam kitab Sunan Nasai [4]al-Mu’jam al-Kabir Thabrani [5], Sunan Tirmidzi [6], Mustadrak Hākim [7], Musnad Ahmad [8] dan sejumlah kitab yang lain.
  2. Zaid bin Tsabit. Dimuat dalam Musnad Ahmad [9] dan al-Mu’jam al-Kabir Thabrani[10]
  3. Jabir bin Abdullah. Dimuat dalam kitab Sunan Tirmidzi [11]al-Mu’jam al-Kabir [12], dan al-Mu’jam al-Ausath [13] Thabrani.
  4. Huzaifah bin Asid. Dalam kitab al-Mu’jam al Kabir Thabrani[14]
  5. Abu Sa’id Khudri. Dalam empat bab dari Musnad Ahmad [15] dan Dhua’fa al-Kabir al-Aqili. [16]
  6. Imam Ali as, dengan dua jalur periwayatan yang terdapat dalam Dar al-Bahr al-Zakhār atau juga dikenal dengan kitab Musnad al-Bazzar [17] dan Kanz al-‘Ummāl[18]
  7. Abu Dzar Ghifari. Dalam kitab al-Mu’talaf wa al-Mukhtalaf Dāruqutni. [19]
  8. Abu Huraira. Dalam kitab Kasyf al-Atsār ‘an Zawaid al-Bazār[20]
  9. Abdullah bin Hanthab. Dalam Usd al-Ghabah[21]
  10. Jubair bin Math’am. Dalam Dhalāl al-Jannah[22]
  11. Sejumlah orang dari para sahabat. [23]

Bahrani, penulis kitab Ghayatul Maram wa Hujjatul Khisham menukil hadis ini melalui 39 jalur dari buku-buku Ahlusunah. Menurut penukilan buku tadi, hadis ini dimuat dan bisa ditemukan dalam beberapa buku seperti Musnad AhmadShahih MuslimManāqib Ibnul MaghaziliSunan Tirmidzial-‘Umdah Tsa’labiMusnad Abi Ya’la, al-Mu’jamul Ausath Thabrani, al-‘Umdah Ibn al-Bathriq, Yanābi’ul Mawaddah Qunduzi, al-Tharaif Ibnul-Maghāzili, Faraidus Simthain dan Syarah Nahj al-Balāgah Ibnu Abi al-Hadid. [24]

Sumber dari Literatur Syiah

Bahrani, penulis kitab Ghāyatul Marām wa Hujjatul Khishām menyebutkan dalam sumber periwayatan Syiah terdapat 82 hadis yang mengandung muatan sebagaimana hadis Tsaqalain, diantaranya terdapat dalam kitab al-Kāfi, Kamaluddin, al-Amāli (karya al-Syaikh al-Shaduq), al-Amāli (karya Syaikh Mufid), Amāli Thusi, ‘Uyun Akhbar al-Ridha, al-Ghaibat Nu’māni, Bashāir al-Darajāt dan banyak lagi dari kitab yang lain. [25]

Monograf

Ulama-ulama Syiah yang secara khusus membahas hadis Tsaqalain dalam karya-karya mereka diantaranya terdapat dalam kitab-kitab berikut:

Hadits Tsaqalain sebuah buku yang ditulis dengan berbahasa Persia, karya Qawamuddin Muhammad Wesynawi Qumi dan buku Sa’ādatu Darain fi Syarhi Haditsu Tsaqalain, karya Abdul Aziz Dahlawi. dan buku yang ditulis dalam bahasa Arab: seperti Hadits Tsaqalain karya Najmuddin Askari, Hadits Tsaqalain karya Sayyid Ali Milani dan Hadits Tsaqalain wa Maqāmātu Ahl al-Bait karya Ahmad al-Mahwazi.

Waktu dan Tempat Pengeluaran Hadis

Mengenai kapan dan dimana hadis Tsaqalain disampaikan oleh Rasulullah saw, terdapat perbedaan pendapat. Misalnya, Ibnu Hajar Haitami [26] menyebutkan bahwa hadis Tsaqalain disebutkan Nabi Muhammad saw sekembalinya dari Fathu Mekah di Thaif, namun yang lain menyebutkan waktu dan tempat yang berbeda dari pendapat tersebut.

Perbedaan pendapat yang terjadi tidak bisa ditinggalkan begitu saja, namun setidaknya bisa diambil kesimpulan bahwa terjadinya perbedaan pendapat tersebut disebabkan karena memang Nabi Muhammad saw telah menyampaikan hadis tersebut di berbagai tempat dan waktu yang berbeda-beda. Terutama di waktu-waktu terakhir dari kehidupannya, beliau sering mengingatkan kaum muslimin akan keutamaan Tsaqalain (dua pusaka berharga) yang ditinggalkannya, yaitu Alquran dan Ahlulbait. [27]

Berikut riwayat-riwayat yang menyebutkan tempat dan waktu pengeluaran hadis ini:

  • Pada hari Arafah, di saat menunggangi unta [28] pada saat penyelenggaran haji wada’ [29]
  • Di persimpangan jalan, di sekitar wilayah Ghadir Khum, sebelum para jemaah haji berpisah satu sama lain, [30] dan setelahnya dilanjutkan dengan disampaikannya hadis Ghadir. [31]
  • Disampaikan saat khutbah di hari Jum’at bersamaan dengan disampaikannya hadis Ghadir. [32]
  • Sehabis shalat berjama’ah di masjid Khaif, di hari terakhir hari Tasyrik. [33]
  • Di atas mimbar. [34]
  • Di penghujung khutbah yang dibacakan untuk seluruh jama’ah. [35]
  • Di dalam khubah setiap selesai shalat berjamaah. [36]
  • Di ranjang, saat Nabi saw terbujur sakit, sementara para sahabat berdiri mengelilinginya. [37

Sunnah atau Itrah?

Sebagian literatur Ahlusunah menyebutkan “sunnati” sebagai pengganti “itrahti” dalam hadis Tsaqalain. [38] Namun teks tersebut jarang ditemukan, bahkan tidak terdapat sama sekali dalam kitab-kitab masyhur Ahlusunah. Para ulama Ahlusunah sendiri tidak memberikan perhatian yang cukup besar terhadap hadis yang memuat teks “sunnati” termasuk dari kalangan teolog khususnya dalam pembahasan perbedaan antar mazhab.

Siapakah yang Dimaksud Itrah?

Dalam banyak periwayatan, kata ‘Ahlulbait’ mucul sebagai penjelas dari ‘Itrahti’, namun sebagian riwayat hanya menyebutkan ‘Itrah[39] dan sebagian lainnya hanya menyebut ‘Ahlulbait’ [40] yang kemudian terulang lagi ketika Nabi saw menyampaikan pesannya. [41]

Pada sebagian periwayatan-periwayatan Syiah dari hadis Tsaqalain, mengenai penjelasan Ahlulbait Nabi saw mengisyaratkan keberadaan 12 Imam maksum. [42]

Keutamaan Hadis

Para ulama Syiah meriwayatkan hadis ini dalam banyak kitab mereka, yang dengan keberadaan hadis tersebut, mereka menggunakannya sebagai dalil yang menguatkan aqidah Syiah mereka. Mir Hamid Husain Kunturi Hindi (w. 1306 H) dalam kitab ‘Abaqāt al-Anwar, jilid 1 sampai 3 menukil hadis ini dengan menyandarkan pada periwayatan Ahlusunah, dan menyebutkan betapa penting dan tingginya posisi hadis ini di sisi mereka. Dalam pembahasan mengenai imamah, hadis ini ia dahulukan sebagai hujjah dibandingkan hadis yang lain.

Dari hadis ini, dapat diambil beberapa poin penting yang dapat menetapkan dan membuktikan kesahihan ajaran Syiah:

Kewajiban Mengikuti Ahlulbait

Dalam riwayat ini, Ahlulbait diposisikan berdampingan dengan Al-Qur’an. Sebagaimana kaum muslimin diwajibkan untuk menataati Al-Qur’an, maka menaati Ahlulbait juga wajib hukumnya.

Kemaksuman Ahlulbait

Ada dua poin penting yang terdapat dalam hadis Tsaqalain yang menguatkan bukti kemaksuman Ahlulbait:

  • Menegaskan jika Al-Qur’an dan Ahlulbait dijadikan pedoman dan petunjuk, maka tidak akan terjadi penyimpangan dan penyelewengan. Hal ini menunjukkan dalam bimbingan dan ajaran Ahlulbait tidak terdapat kesalahan sedikitpun.
  • Ketidakterpisahan Al-Qur’an dan Ahlulbait, Posisi keduanya sama sebagai pusaka Nabi Muhammad saw yang sangat berharga dan menjadi pedoman bagi umat manusia. Sebagimana telah menjadi kesepakatan seluruh kaum muslimin bahwa dalam kitab Al-Qur’an tidak terdapat kesalahan, maka “tsiql” (perkara} lainnya yaitu Ahlulbait, sudah tentu juga tidak terdapat kesalahan padanya.

Sebagian dari peneliti Ahlusunah juga menjadikan hadis Tsaqalain sebagai dalil yang menunjukkan keutamaan besar yang dimiliki Ahlulbait dan hujjah atas kesucian mereka dari kekotoran, kekejian dan kesalahan. [43]

Keharusan Adanya Imam

Pada matan hadis, juga terdapat poin penting yang menguatkan dalil akan keharusan adanya imam sampai akhir zaman.

  • Ketidakterpisahan Ahlulbait dengan Al-Qur’an menunjukan bukti akan keniscayaan imam dari kalangan Ahlulbait Nabi saw yang akan terus bersama Al-Qur’an. Sebagaimana diyakini, Al-Qur’an adalah sumber abadi pedoman dalam Islam, maka meniscayakan akan selalu ada dari kalangan Ahlulbait yang akan mendampingi Al-Qur’an untuk memberikan penjelasan dan sebagai sumber rujukan.
  • Nabi saw menegaskan bahwa kedua pusaka berharga yang diwariskannya, tidak akan terpisah sampai bertemu Nabi Muhammad saw di tepi telaga Kautsar.
  • Nabi saw menjamin, barangsiapa mengikuti keduanya, tanpa memisahkannya, maka tidak akan tersesat selama-lamanya.

Imam Zarqani Maliki, salah seorang ulama Ahlusunah, dalam kitab Syarhul Mawāhib [44] menukil dari Allamah Samhudi yang menyatakan, “Dari hadis ini dapat dipahami bahwa, sampai kiamat akan tetap ada dari kalangan Itrah Nabi saw yang layak untuk dijadikan pegangan. Jadi sebagaimana yang tersurat, maka hadis ini menjadi dalil akan keberadaannya. Sebagaimana kitab (Al-Qur’an) tetap ada, maka mereka (yaitu Itrah) juga tetap ada di muka bumi. [45]

Ilmu Ahlulbait Sebagai Narasumber

Sebagaimana diketahui bahwa Al-Qur’an adalah rujukan utama aqidah dan hukum-hukum praktis semua kaum muslimin, sementara hadis ini menyebutkan bahwa Ahlulbait tidak akan pernah terpisah dengan Al-Qur’an, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Ahlulbait adalah juga sumber rujukan keilmuan Islam yang tidak terdapat di dalamnya kesalahan.

Sayid Abdul Husain Syarafuddin dalam dialognya dengan Syaikh Salim Bisyri –sebagaimana dimuat dalam kitab al-Murāja’āt– menjelaskan dengan sangat baik mengenai kemarjaan ilmu Aimmah as dan wajibnya untuk mengikuti petunjuk dan ajaran-ajaran mereka. [46]

Hadis Tsaqalain dan Pendekatan antar Mazhab

Sebagaimana telah disebutkan bahwa hadis Tsaqalain adalah hadis mutawatir yang diakui kesahihannya oleh Syiah dan Sunni, maka sepatutnya keberadaan hadis ini menjadi penyebab dan pendorong upaya persatuan Islam dan upaya pendekatan antar mazhab. Sebagaimana misalnya, yang pernah diupayakan oleh Sayid Abdul Husain Syarafuddin, salah seorang ulama Syiah dengan Syaikh Salim Bisyri dari ulama Ahlusunah. Dialog keduanya yang penuh semangat ukhuwah dan persaudaraan Islami dapat dirujuk dalam kitab al-Murājā’at. Atau sebagaimana upaya keras dan konsisten dari Ayatullah Burujerdi untuk menggalakkan aktivitas pendekatan antar mazhab yang terinspirasi dari pesan hadis Tsaqalain ini. [47]

 

Sumber dan Catatan Kaki Wikishia.net

 

Check Also

Hukum Meminum Kencing Unta Menurut Mazhab Syiah

Dalam fikih Syiah, mengenai najis tidaknya air kencing hewan, hewan terbagi atas dua kelompok. Kelompok …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *