Home / Sosok / Ringkasan Kehidupan Imam Ali Bin Abi Thalib AS [2]

Ringkasan Kehidupan Imam Ali Bin Abi Thalib AS [2]

Nabi Mempersiapkan Ali

Nabi sering hilir mudik ke rumah pamannya Abu Thalib, sekalipun ia dan Khadijah telah hidup sendiri. Nabi senantiasa menumpahkan perhatian yang lebih kepada Ali bin Abi Thalib. Nabi begitu menyayanginya dan sering menggendongnya. Nabi sering menggoyang tempat tidur Ali hingga tertidur. Begitu besar perhatian Nabi kepada Ali bin Abi Thalib.[1]

Sebuah nikmat ilahi yang meliputi kehidupan Ali bin Abi Thalib ketika pada masa itu bangsa Quraisy tertimpa krisis ekonomi yang cukup besar. Abu Thalib terkenal dengan keluarga besar. Ia termasuk yang paling menderita dengan kondisi ini. Melihat kenyataan itu, Rasulullah saw mengusulkan kepada Abbas, dan orang-orang kaya di kalangan Bani Hasyim, untuk meringankan beban Abu Thalib. Nabi berkata: “Wahai Abbas! Saudaramu Abu Thalib memiliki keluarga banyak. Di sisi lain, bukankah engkau tahu apa yang tengah menimpa masyarakat. Mari kita bersama-sama meringankan tanggungannya. Aku akan mengambil salah satu dari anak-anaknya dan menjadi tanggunganku dan engkau mengambil yang lainnya sebagai tanggunganmu”. Abbas menjawab: “Baiklah!”

Keduanya segera menemui Abu Thalib dan berkata: “Kami berdua ingin meringankan beban dari tanggungan yang berat atas keluarga besarmu agar masyarakat mengetahui apa yang harus mereka kerjakan. Abu Thalib menyambut usulan keduanya dan berkata: “Kalian boleh mengambil yang mana saja yang kalian kehendaki, tapi biarkan ‘Aqil bersama kami”. Rasulullah saw. dan Abbas setuju. Nabi mengambil Ali bin Abi Thalib dan langsung mendekapnya. Pada waktu itu Ali bin Abi Thalib berumur enam tahun. Sementara Abbas mengambil Ja’far. Semenjak itu, Ali bin Abi Thalib senantiasa bersama Muhammad saw sampai beliau diangkat sebagai nabi. Ketika telah menjadi nabi, Ali kemudian mengikuti, beriman dan membenarkan kenabian Muhammad. Ja’far hidup bersama Abbas, pamannya, hingga ia masuk Islam.[2]

Setelah memilih Ali bin Abi Thalib, Rasulullah berkata, “Aku telah memilih seseorang yang dipilihkan Allah untukku, yaitu Ali”.[3]

Demikianlah telah tiba saat-saat Ali bin Abi Thalib hidup sejak kecil bersama Muhammad, Rasulullah saw. Ia dibesarkan di bawah naungan akhlak Nabi yang mulia. Ia minum dari sumber-sumber kecintaan dan kasih sayang Nabi. Muhammad saw membimbingnya sesuai dengan cara pendidikan yang diajarkan Allah kepadanya. Semenjak itu, Ali tidak pernah terpisah dari Muhammad saw.

Ali bin Abi Thalib a.s. sendiri menyebutkan sisi-sisi edukatif yang dipelajarinya dari sang guru dan pendidiknya Muhammad saw. Bagaimana pendidikan yang diterimanya memiliki dampak yang dalam dan sangat membekas dalam dirinya. Itu disampaikannya dalam khotbahnya yang terkenal dengan “Al-Qashi’ah”. Ia berkata:

Bukankah kalian telah mengetahui bagaimana hubungan dan kedekatanku dengan Muhammad, Rasulullah saw. dan posisi serta kekhususanku di sisinya. Ia meletakkanku di kamarnya pada usiaku yang masih kecil. Ia sering merengkuh dan menarikku dalam dekapannya. Ia senantiasa menjagaku di pembaringannya. Tubuhku sering bergesekan dengan tubuh Nabi. Ia memberiku kesempatan untuk mencium bau badannya yang wangi dari dekat. Nabi biasanya mengunyah makanan hingga halus kemudian menyuapkannya ke dalam mulutku. Ia tidak pernah menemukan aku berkata bohong dan melakukan perbuatan salah karena tidak tahu.

“Aku mengikuti jejak Nabi bak anak unta yang terus mengikuti ke mana induknya pergi. Setiap hari ia mengangkat derajatku dengan menunjukkan akhlaknya yang mulia dan memintaku untuk mengikutinya. Setiap tahun, Nabi pergi menyepi ke gua Hira. Tidak ada yang mengetahui keadaan ini kecuali aku. Pada masa itu,  tidak ada satu rumah pun yang meyakini Islam kecuali rumah Rasulullah saw. Di rumah ini Nabi, Khadijah dan aku sebagai orang ketiga yang memeluk Islam. Aku melihat cahaya wahyu dan risalah. Aku mencium bau kenabian. Aku dapat mendengar suara setan ketika Nabi diturunkan wahyu untuk pertama kali. Ketika itu aku memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah saw: “Wahai Rasulullah! suara apa ini? Beliau menjawab: “Itu suara setan yang berputus asa dari orang-orang yang menyembahnya. Engkau mendengar apa yang kudengar. Melihat apa yang aku lihat. Sayangnya engkau bukan seorang Nabi. Akan tetapi engkau seperti seorang menteri. Dan engkau berada di atas kebaikan”. [4]

Ali orang pertama yang beriman

Oleh Al-Qur’an, Rasulullah saw. disebutkan hidup berdasarkan nilai-nilai ilahiah sebagaimana dalam ayat “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) berada di atas akhlak yang agung”.[5] Dia seorang contoh pribadi yang berbeda dengan masyarakat jazirah Arab lainnya dari sisi keyakinan, pemikiran, perilaku dan akhlak. Semenjak kecil, Muhammad senantiasa berperilaku yang sesuai dengan nilai-nilai risalah para Nabi, terutama dengan nilai yang dibawa oleh Nabi Ibrahim Al-Khalil a.s. Dalam masalah kehidupan qana’ah (sifat merasa cukup) yang dicontohkan Nabi, tidak akan ditemukan kesesuaian dengan nilai yang dianut oleh masyarakat Jahiliyah. Atas dasar ini, ia membangun sebuah keluarga mukmin yang terdiri dari dirinya sendiri dan Khadijah serta Ali bin Abi Thalib.

Sesuai dengan ajaran yang dibawanya, Nabi memiliki tugas untuk mengubah sejarah yang ada. Ia harus membuka sebuah jalan alternatif di tengah-tengah aliran global yang berkuasa masa itu. Ia akan berjuang melawan penyimpangan yang berkuasa dengan keluarga yang telah dibangunnya. Ia akan menciptakan gelombang yang menderu-deru, mengubah perlahan-lahan arus penyembahan berhala dan semangat Jahiliyah dari permukaan bumi. Ali bin Abi Thalib a.s. sebagai orang yang dibesarkan di keluarga wahyu belum pernah menyembah berhala seumur hidupnya. Ia belum pernah melakukan kesyirikan kepada Allah. Ketika wahyu turun kepada Nabi saw., Ali berada di sampingnya. Ia orang pertama yang beriman kepada risalah Nabi sebagaimana buku-buku sejarah menjadi saksi atas fakta agung itu.

Anas bin Malik berkata: “Kenabian diturunkan kepada Muhammad saw. pada hari Senin, dan Ali bin Abi Thalib melakukan shalat pada hari Selasa”.[6]

Diriwayatkan juga dari Salman Al-Farisi dan berkata: “Orang pertama dari umat Islam yang sampai di telaga Kautsar Nabi adalah orang pertama yang memeluk Islam, dan dia adalah Ali bin Abi Thalib”.[7] Dari Abbas bin Abdul Mutthalib pernah mendengar Umar bin Khatthab berkata: “Jangan membicarakan Ali bin Abi Thalib kecuali tentang kebaikan. Aku sendiri pernah mendengar Rasulullah berkata: “Pada diri Ali bin Abi Thalib terdapat tiga keistimewaan”. Mendengar sabda Nabi ini, aku ingin sekali memiliki satu dari tiga keistimewaan yang dimiliki Ali itu. Setiap satu keistimewaan bagiku lebih berharga dari bumi dan seisinya. Karena aku, Abu Bakar, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dan seorang dari sahabat Nabi menyaksikan Rasulullah saw menepuk pundak Ali sambil berkata: ‘Wahai Ali! Engkau adalah orang pertama yang memeluk Islam. Engkau adalah orang yang pertama beriman. Posisimu disisiku seperti posisi Harun di sisi Musa. Pendusta adalah orang yang mengatakan bahwa ia mencintaiku namun dalam hatinya ia membencimu, wahai Ali!”[8]

Bila diyakini bahwa para sejarawan sependapat akan Ali bin Abi Thalib sebagai orang pertama yang memeluk Islam,[9] sayangnya mereka berselisih pendapat pada umurnya ketika menyatakan keislamannya. Mengkaji secara serius untuk memastikan umur Ali ketika memeluk Islam tidaklah menjadi masalah yang begitu penting. Sebab ia belum pernah kafir sehingga kemudian memeluk Islam atau pernah syirik setelah itu beriman. Ali sendiri berkata: “Aku dilahirkan atas fitrah”. Atas dasar ini, ahli hadis sepakat untuk menghormati keutamaan yang dimiliki oleh Ali bin Abi Thalib. Mereka menyatakan kehormatan ini dengan menambah kata Karramallahu Wajhahu padanya. Islam bersemayam di lubuk hatinya yang paling dalam setelah dibesarkan di kamar risalah. Ia makan dari tangan kenabian. Dan akhlak Nabi membuatnya lebih baik.

Ustadz Al-‘Aqqad berbicara tentang pribadi Ali sebagai berikut:

“Berdasarkan penelitian yang serius, dapat dipastikan bahwa Ali bin Abi Thalib dilahirkan dalam kondisi Islam. Kami melihat kelahirannya dengan pandangan akidah dan ruh. Ia membuka matanya dengan Islam. Ia belum pernah menyembah berhala sebelum memeluk Islam. Ia besar dan dididik di rumah tempat dakwah Islam bermula. Ia memahami bagaimana cara beribadah lewat shalat yang dilakukan oleh Nabi dan istrinya yang suci sebelum mengetahuinya dari shalat ibu bapaknya”.[10]

Ali Orang Pertama yang Melakukan Shalat

Ali bin Abi Thalib hidup bersama Rasulullah dengan segala perubahan yang terjadi dalam kehidupan Nabi. Ia memandang Nabi sebagai teladan sempurna yang dapat memenuhi tuntutan keingintahuan dan kejeniusannya. Ali mengaplikasikan semuanya dalam perilaku dan pergerakannya. Ia mencontoh perilaku Nabi dan taat padanya terkait dengan perintah maupun larangan. Perilaku ini dilakukan sejak diutusnya Muhammad saw. menjadi nabi hingga akhir hayat beliau. Para sejarawan sepakat bahwa ia belum pernah membantah ucapan Rasulullah saw. seumur hidupnya.

Ali bin Abi Thalib sendiri menjelaskan bahwa ia adalah orang pertama yang melakukan shalat setelah Nabi. Ia berkata, ‘Tidak ada seorang pun yang mendahuluiku dalam melakukan shalat selain Rasulullah saw”.[11]

Diriwayatkan juga dari Habbah Al-‘Irni, ia berkata: “Pada suatu hari, aku melihat Ali bin Abi Thalib tertawa. Sebelumnya aku belum pernah melihatnya tertawa lebih dari tawanya kali ini hingga terlihat gigi taringnya. Kemudian Ali berkata: “Ya Allah, Aku belum pernah melihat seorang hamba terbaik sebelumku selain nabi umat ini”.[12]

Dalam tafsir ayat “Dan rukukklah kalian bersama orang-orang yang melakukan rukukk”,[13]dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Ayat ini turun berkenaan dengan Rasulullah saw. dan Ali bin Abi Thalib. Mereka berdua adalah orang pertama melakukan shalat dan rukuk.[14]

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasul bersabda: “Para malaikat bersalawat kepadaku dan kepada Ali sebanyak tujuh kali. Karena kalimat syahadatain (Asyhadu An Laa Ilaaha Illah Allah wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah) tidak akan diangkat ke langit kecuali melaluiku dan Ali”.[15]

Ali Orang Pertama yang Melakukan Shalat Jamaah

Sebelum memulai dakwahnya dan bila hendak melakukan shalat, Rasulullah keluar menuju jalan setapak menuju gunung di Mekkah dengan secara rahasia. Ia membawa Ali bin Abi Thalib bersamanya dan keduanya melakukan shalat sesuai yang diinginkan Allah. Setelah usai melakukan shalat mereka berdua kembali ke kota. Mereka senantiasa melakukan demikian tanpa sepengetahuan Abu Thalib, seluruh paman-paman, dan kabilah. Hingga pada suatu hari, Abu Thalib melewati mereka dan melihat apa yang tengah mereka lakukan. Ia bertanya kepada Rasulullah saw: “Apa yang aku lihat ini? Sepertinya engkau tengah melakukan perbuatan atas sebuah agama?”

Nabi segera menjawab: “Ini adalah agama Allah, malaikat, agama utusan-utusan sebelumnya dan agama ayah kita; Ibrahim. Allah telah mengutusku sebagai nabi kepada hamba-hambaNya. Wahai paman! Engkau adalah orang yang tepat untuk kuberikan nasihat dan kuajak menuju petunjuk dan kebenaran. Engkaulah orang yang paling tepat menerima seruanku dan yang paling tepat untuk menolongku dalam mengemban agama ini”.

Ali juga ikut berkata: “Wahai Ayah! Aku telah beriman kepada Rasulullah. Aku telah mengikutinya dan shalat bersamanya karena Allah swt”.

Abu Thalib menjawab: “Wahai anakku! Muhammad yang aku ketahui tidak akan meninggalkanmu kecuali dalam kebaikan. Ikutlah dengannya”.[16]

Contoh lain dari sikap pamannya Abbas yang diriwayatkan oleh ‘Afif Al-Kindi. Ia berkata:

“Aku adalah seorang kaya. Suatu saat aku pergi melakukan haji. Aku menemui Abbas bin Abdul Mutthalib untuk menjual beberapa barang. Demi Allah, Aku berada di sampingnya di Mina, ketika muncul seorang dari kemah yang berdekatan dengan milik Abbas. Orang tersebut menatap ke matahari. Setelah melihat matahari telah tergelincir,  ia pun berdiri melakukan shalat. Saat itu juga keluar seorang wanita dari kemah tadi dan berdiri di belakang sambil ikut melakukan shalat. Muncul juga seorang anak kecil dari kemah tadi dan berdiri di samping lelaki tadi dan ikut melaksanakan shalat bersamanya. Aku bertanya dengan penuh keheranan: “Siapa ini Abbas? “Itu adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdil Mutthalib”. Kulanjutkan pertanyaanku: “Lalu wanita itu siapa? “Istrinya Khadijah binti Khuwailid”, jawab Abbas. “Anak kecil itu siapa?”, tanyaku lagi. Abbas menjawab: “Itu Ali bin Abi Thalib anak pamannya’. “Apa yang sedang dilakukan oleh Muhammad?’ tanyaku tidak habis mengerti. Lagi-lagi Abbas menjawab: “Ia tengah melakukan shalat. Ia mengaku dirinya sebagai nabi. Sampai saat ini belum ada yang mengikuti ajarannya kecuali istri dan anak pamannya. Ia juga berkata bahwa akan menguasai pundi-pundi kekaisaran Kisra (Persia) dan Kaisar (Romawi)”.[17]

Setelah terbentuknya benih umat Islam yang terdiri dari Rasulullah, Ali dan Khadijah, dan tersebarnya berita tentang agama baru di tengah-tengah masyarakat Quraisy, mulai banyak orang yang mendapat hidayah dari Allah yang pada akhirnya memeluk Islam. Ketika kaum muslimin mulai kuat, ketika berlalu beberapa tahun dan tampak Islam semakin kuat dan mampu untuk menampakkan diri secara terbuka di hadapan masyarakat serta mampu berhadap-hadapan terkait dengan masalah agama dan akidah, Allah swt. memerintahkan Nabi untuk memulai dakwah secara terang-terangan. Sebelumnya, para sahabat bila hendak melakukan shalat, pergi ke tempat-tempat sepi untuk menunaikannya di sana. Pada suatu ketika, saat sebagian sahabat melakukan shalat di tempat sepi dekat gunung, sebagian dari kaum musyrikin mengetahui perbuatan itu. Di antara mereka adalah Abu Sufyan bin Harb dan Al-Akhnas bin Syirriq dan selainnya. Mereka mencaci maki para sahabat yang tengah melakukan shalat bahkan membunuh mereka.[18]

Hadis Yaum Al-Indzar (hari peringatan) adalah peristiwa khusus pertemuan keluarga Nabi dengan undangan dari beliau untuk meminta baiat dari mereka dan menolongnya kelak. Orang pertama yang mengumumkan dirinya dan siap memenuhi ajakan Rasulullah pada hari itu adalah Ali bin Abi Thalib. Para ahli tafsir dan sejarawan, salah satunya adalah Thabari, dalam buku-buku sejarah dan tafsir mereka menuliskan, bahwa ketika ayat Wa Andzir ‘Asyirataka Al-Aqrabin (beri kabar keluarga dekatmu) turun kepada Nabi, ia merasa sulit karena tahu bagaimana permusuhan yang ditunjukkan oleh kabilah Quraisy. Nabi memanggil Ali untuk membantunya menyebarkan agama Allah ini.

 

Catatan Kaki

  1.  Bihar Al-Anwar, jilid 35, hal 43.
  2. Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 58, cetakan Muassasah Al-A’lami, Beirut. Syarh Ibnu Abi Al-Hadid, jilid 13, hal 198. Yanabi’ Al-Mawaddah hal 202. Kasyf Al-Ghummah, jilid 1, hal 104. Mausu’ah Tarikh Al-Islami, jilid 1, hal 351-356.
  3. Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 1, hal 15. Menukil dari Al-Baladzri dan Al-Ishfahani.
  4. Al-Faidh, Syarh Nahjul Balaghah, hal 802, khutbah 234.
  5. QS. 68: 4.
  6. Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, jilid 1, hal 41. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 2, hal 58. Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 55. Sunan At-Turmudzi, jilid 5, hal 600, hadis ke 3735.
  7. Ibnu Abd Al-Bar Al-Maliki, Al-Isti’ab bi hamisy Al-Ishabah, jilid3, hal 29. Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 55. Pada Tarikh Ath-thabari disebutkan, ‘Ali adalah orang pertama yang memeluk islam. Pada Tarikh Dimasyq jilid 1, hal 32, 35,65, disebutkan, ‘Ali orang pertam yang memeluk islam. Tarikh Al-Baghdadi, jilid 2, hal 81, nomor 459.
  8. Ibnu As-Shibagh Al-Maliki, Al-Fushul Al-Muhimmah, hal 126. Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, jilid 1, hal 331, nomor hadis 401.
  9. Sumber-sumber buku hadis yang meriwayatkan bahwa Ali adalah orang pertama yang islam: Sunan Al-Baihaqi, jilid 5, hal 206. Musnad Abi Hanifah, nomor hadis 368, hal 173. Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 55, cetakan Muassasah Al-‘Alami. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 2, hal 57. Usd Al-Ghabah, jilid 4, hal 16. Tarikh Ibnu Khaldun, juz 3, hal, 715. Badu’ Al-Wahy wa As-Sirah An-Nabawiyah, jilid 1, hal 262. As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 1, hal 432. Muruj Adz-dzahab,  jilid 2, hal 283. ‘Uyun Al-Atsar, jilid 1, hal 92. Al-Ishabah fi Ma’rifah As-Shahabah, jilid 2, hal 507. Tarikh Baghdad, jilid 2, hal 18.
  10. Abbas Mahmud Al-‘Aqqad, ‘Abqariah Al-Imam Ali, hal 43. Al-Allamah Al-Amini menyebutkan dalam bukunya Al-Ghadir, jilid 3, hal 220-236 sekitar 66 hadis menyebutkan bahwa Ali adalah orang pertama yang Islam dibandingkan dengan sahabat-sahabat yang lain.
  11. Al-Faidh, Nahjul Balaghah, hal 397, khutbah 131.
  12. Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, jilid 1, hal 49, hadis nomor 88.
  13. QS. 2 : 43.
  14. Al-Haskani, Syawahid At-Tanzil, jilid 1, hal 85.
  15. Ibnu Al-Maghazili, Al-Manaqib, hal 14, nomor hadis 19. Syeikh Al-Mufid dalam bukunya Al-Irsyad menukil hadis yang mirip pada hal 30, pasal 1, bab 2. Ibnu Al-Atsir, Usd Al-Ghabah, jilid 4, hal 18, hadisnya sama
  16. Ibnu As-Shibagh, Al-Fushul Al-Muhimmah, hal 33. Al-Kamil fi At-Tharikh, jilid 1, hal 58. Thabari memuat hal yang sama dalam buku sejarahnya, jilid 2, hal 58.
  17. Musnad Ahmad, jilis 1, hal 29. An-Nasa’I, Al-Khashais, hal 3. Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, jilid 1, hal 58. Al-Kanji, Kifayah At-Thalib, hal 129. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 2, hal 57.
  18. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 2, hal 60. As-Sirah An-Nabawiyah, jilid 1, hal 315, cetakan Dar Al-Furqan, Beirut.

Check Also

Ayatullah Khamenei Ingatkan Pentingnya Persatuan Islam dihadapan Ratusan Ulama Sunni-Syiah

Konferensi Internasional pecinta Ahlulbait as dan pembahasan isu Takfiri digelar di Tehran dan dihadiri oleh …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *