Home / Sosok / Ringkasan Kehidupan Imam Ali Bin Abi Thalib [1]

Ringkasan Kehidupan Imam Ali Bin Abi Thalib [1]

Nasab Ali bin Abi Thalib adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lua’iy bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhir bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Iyaas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan.

Kakek

Abdul Mutthalib dikenal sebagai “Syaibah Al-Hamd” (orang tua yang suka bersukur). Namun, ia juga biasa dipanggil dengan Abu Al-Harts. Nasab Ali bin Abi Thalib bertemu dengan nasab Rasulullah saw pada Abdul Mutthalib. Abdul Mutthalib beriman kepada Allah swt dan tahu persis bahwa Muhammad saw akan menjadi seorang nabi.[1]

Ketika mendekati ajalnya, Abdul Mutthalib ia memanggil anaknya; Abu Thalib dan berkata: “Wahai anakku! Engkau tahu betul betapa aku mencintai Muhammad. Aku ingin mengetahui pendapatmu. Bagaimana engkau akan menjaganya sepeninggalku?”  Abu Thalib menjawab: “Wahai ayah! Jangan mewanti-wantiku tentang pengasuhan Muhammad saw. Ia telah kuanggap sebagai anakku sendiri, walaupun ia adalah anak saudaraku”.[2]

Ayah

Ayah Ali bin Abi Thalib bernama Abdi Manaf. Ada dua nama yang disebutkan berkenaan dengan nama ayah Ali bin Abi Thalib bin Abi Thalib; Imran dan Syaibah. Ayah Ali bin Abi Thalib lebih dikenal dengan sebutan Abu Thalib. Abdi Manaf adalah saudara sekandung Abdullah ayah Nabi Muhammad saw. Abu Thalib dilahirkan di Mekkah sekitar tiga puluh lima tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad saw.

Abu Thalib adalah pemimpin bagsa Quraisy sepeninggal ayahnya; Abdul Mutthalib. Tugasnya antara lain memberi minum semua peziarah ke Mekkah. Tugas ini dalam sejarah disebut siqayatul haj. Abu Thalib adalah orang yang menyembah Allah dan mengesakan-Nya tanpa pernah menyembahnya. Pada masanya, ia melarang perkawinan sesama muhrim, membunuh anak wanita yang baru lahir, berzina, meminum minuman keras dan melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah sambil telanjang.[3]

Sepeninggal Abdul Mutthalib, Abu Thalib menjadi pengasuh Rasulullah saw. Ia mencintai Muhammad lebih dari cintanya kepada anak-anaknya sendiri. Setiap hendak tidur, Muhammad selalu ditidurkan di sisinya. Bila ia keluar, senantiasa Muhammad saw dibawa bersamanya. Makanan Muhammad saw., pun disisihkan olehnya secara khusus.

Diriwayatkan bahwa Abu Thalib pernah mengumpulkan sanak keluarga Abdul Mutthalib dan berkata: “Kalian senantiasa mendengar bahwa Muhammad selalu melakukan kebajikan, sayangnya kalian belum mengikutinya. Ikutilah dia, bantu dia, niscaya kalian akan menemukan kebenaran”. Sepeninggal Abu Thalib, bangsa Quraisy senantiasa berada di belakang Rasulullah saw membantunya.[4]

Abu Thalib meninggal dunia tiga tahun sebelum hijrah dan setelah terbebasnya Bani Hasyim bersama Nabi dari As-Syi’b. Ketika meninggal, Abu Thalib berusia delapan puluh tahunan lebih.[5] Nabi Muhammad saw. juga memiliki kecintaan yang dalam kepada Abu Thalib. Sejak berumur delapan tahun (sepeninggal kakeknya Abdul Mutthalib), ia hidup bersamanya. Sekitar 43 tahun ia merasakan kasih sayang sang paman tercinta.

Jelas, Abu Thalib adalah orang yang beriman kepada Allah dan mengesakan-Nya. Ia memiliki keyakinan yang dalam akan kebenaran Islam hingga maut menjemputnya. Selama hidupnya, iamenyembunyikan keimanannya agar tetap dapat melakukan hubungan dengan orang-orang kafir Mekkah dan mencari informasi tentang tipu daya dan makar yang akan dilakukan terhadap Muhammad saw. Semasa hidupnya, ia melakukan taqiyyah (menyembunyikan iman). Ia bagaikan ‘Ashabul Kafi’ yang menyembunyikan imannya dari masyarakat sekitarnya. Ia merupakan  seorang mukmin yang akan mendapat dua pahala karena keimanan yang digenggamnya dan taqiyyah yang dilakukannya.[6]

Ibu

Ibu Ali bin Abi Thalib bernama Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf. Nasab ibu dan ayahnya bertemu pada Hasyim. Ia memeluk Islam dan berhijrah bersama Nabi dan termasuk dari orang-orang pertama yang beriman. Di mata Muhammad, Fathimah bagaikan seorang ibu[7] yang telah bersusah payah membesarkannya. Oleh karenanya, ketika Fathimah meninggal dunia, Nabi Muhammad saw memasuki kamar tempat ia dibaringkan, lalu duduk di bagian atas kepalanya dan berkata: “Semoga Allah merahmatimu wahai ibu! Engkau kuanggap ibuku sendiri sepeninggal ibuku. Engkau sering rela untuk menahan lapar untuk tidak membiarkan aku tanpa makanan. Engkau tidak memiliki banyak pakaian untuk senantiasa aku kau pakaikan pakaian. Engkau menahan diri untuk tidak menikmati makanan yang lezat dan membiarkannya untukku. Kutahu apa yang kau perbuat hanya karena mengharap pahala dari Allah di Hari Akhirat”.

Setelah mendoakannya, Nabi kembali menutupnya dan memerintahkan untuk memandikan jenazahnya dengan air tiga kali. Ketika sampai pada mandi dengan air yang dicampur dengan kapur, Nabi sendiri yang menuangkan air dengan tangannya. Kemudian Nabi melepaskan baju gamisnya dan memakaikannya ke tubuh Fathimah binti Asad ibu Ali bin Abi Thalib, kemudian mengafankannya lalu memanggil Usamah bin Zaid (budak Nabi yang telah dimerdekakannya), Abu Ayub Al-Anshari, Umar bin Khatthab dan seorang budak hitam untuk menggalikan kuburannya. Setelah mencapai kedalaman yang diinginkan, Nabi dengan tangannya sendiri menggali tempat persemayaman terakhir ibu yang telah membesarkannya dan mengangkat tanahnya sendiri. Setelah itu, beliau masuk lagi dan berbaring di dalam kuburan sambil berkata: “Allah, Zat yang menghidupkan dan mematikan, Zat yang selalu hidup tak pernah mati. Ya Allah! Ampunilah ibuku Fathimah binti Asad bin Hasyim. Beritahu bahwa ia telah menemukan kebenarannya. Demi kebenaran yang dibawa oleh Nabi-Mu dan para Nabi sebelumku, luaskan kuburan ini baginya. Sesungguhnya Engkau Maha pengasih Maha Penyayang”. Setelah berdoa, Rasulullah saw., dengan bantuan Abbas dan Abu Bakar, memasukkan jasad Fathimah ke dalam kubur.[8]

Disebutkan bahwa ada yang bertanya tentang penguburan Fathimah binti Asad: “Wahai Rasulullah! Kami melihat engkau meletakkan sesuatu di kuburan Fathimah, padahal engkau tidak pernah melakukan hal ini untuk siapa pun sebelumnya?” Beliau menjawab: “Aku memakaikannya pakaianku sendiri agar kelak ia memakai pakaian para penghuni surga. Aku juga sempat berbaring di kuburannya agar Allah meringankan tekanan kuburan atasnya. Ia adalah salah satu ciptaan Allah yang terbaik bagiku setelah Abu Thalib. Semoga Allah meridhai keduanya”.[9]

Periode Kehidupan

Ali bin Abi Thalib a.s. dilahirkan sepuluh tahun sebelum bi’tsah (pengangkatan Muhammad saw sebagai Nabi). Ia hidup dan mengalami semua kejadian mulai dari bi’tsah hingga seluruh pergerakan risalah selama di Mekkah, yaitu periode pembentukan umat Islam dan pengukuhan prinsip-prinsip risalah. Ia juga mengikuti seluruh pergerakan Islam di Madinah, yaitu periode dimana pemerintahan Islam di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad saw, dibangun secara sempurna. Ali memiliki saham besar dalam keberadaan Islam hingga muncul dan dikenal oleh dunia.

Sesuai perintah Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib bertanggung jawab membawa obor hidayah ilahiah dan kepemimpinan Islam pasca Nabi. Di sisi lain, para sahabat melakukan pembangkangan terhadap teks-teks yang telah diucapkan Rasulullah saw. untuk menjadikan Ali sebagai pemimpin mereka. Para sahabat berusaha sedemikian rupa agar Ali tidak menjadi pemimpin sepeninggal Nabi. Akan tetapi, Ali bin Abi Thalib tetap berjalan mengemban risalah di tengah kondisi yang sulit. Ia hidup bersama para khalifah, padahal ia tahu siapa sebenarnya yang layak menduduki kursi kepemimpinan. Ali mampu menahan kesabarannya sedemikian rupa selama dua puluh lima tahun hingga kesabarannya membuahkan hasil. Akhirnya, umat Islam mengetahui sejumlah penyimpangan yang telah mereka lakukan atas nasihat dan garis yang telah ditentukan oleh Nabi.

Memahami akan kesalahan yang terjadi, kemudian umat mendatangi Ali bin Abi Thalib dan menyerahkan kepemimpinan kepadanya. Itu setelah menjalani segala kesulitan yang panjang yang pada akhirnya ia harus mengemban tanggung jawab berat ini. Semua nilai kebaikan yang dimilikinya hanya dapat diterapkan selama lima tahun. Setelah berjuang selama lima tahun, akhirnya beliau menyerahkan darahnya di jalan Allah demi membela nilai-nilai risalah yang diperjuangkannya agar merasuk kuat ke dalam hati nurani masyarakat Islam dan kemanusiaan.

Secara umum, perjuangan Ali bin Abi Thalib telah membagi kehidupannya menjadi dua periode.

Periode pertama   , kehidupannya mulai dari lahir hingga   wafatnya Rasulullah saw.

Periode kedua, kehidupannya sejak wafatnya Nabi, memegang tampuk kepemimpinan hingga menemui kesahidannya di mihrab masjid.

Namun, dengan melihat beragamnya vase kehidupan Ali bin Abi Thalib, akan lebih tepat bila periode pertama dibagi menjadi tiga bagian agar lebih memudahkan dalam memahami sejarah kehidupannya:

Periode pertama   : Sejak lahir hingga bi’tsah.

Periode kedua      : Sejak bi’tsah hingga hijrah.

Periode ketiga : Sejak hijrah hingga wafatnya Nabi.

Sementara itu, periode kedua juga dapat dibagi menjadi dua kelompok; Pertama ia melakukan perlawanan diam untuk mempertahankan risalah dan rasul. Kedua, ia menjadi pemimpin.

Periode keempat : Zaman pemerintahan Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Periode kelima      : Selama memerintah hingga kesahidan.

Periode pertama hingga ketiga akan dibahas pada bab ini juga. Sementara periode keempat akan dibahas pada bab tiga. Adapun bab keempat dari buku ini dikhususkan untuk periode kelima dari kehidupan Ali bin Abi Thalib a.s.

Sejak Lahir Hingga Menjadi Imam

Periode Pertama : Sejak Lahir Hingga Bi’tsah (Awal Kenabian)

Kelahiran

Ali bin Abi Thalib berkata: “Aku dilahirkan di atas fitrah. Aku termasuk orang yang lebih dahulu dalam beriman dan berhijrah”.[10]

Ali bin Abi Thalib dilahirkan di kota Mekkah, tepatnya di dalam Ka’bah pada hari Jumat tanggal 13 bulan Rajab, tahun 30 dari Tahun Gajah, atau dua puluh tiga tahun sebelum hijrah. Dalam sejarah, belum pernah tercatat seorang yang dilahirkan di dalam Ka’bah selain Ali. Tentunya, ini sebagai bentuk keistiewaan yang dimilikinya dari Allah sekaligus sebuah penghormatan dan kedudukannya.[11]

Diriwayatkan dari Yazid bin Qa’nab, ia berkata: “Aku sedang duduk-duduk bersama Abbas bin Abdul Mutthalib dan sekelompok dari keluarga Bani ‘Izza di hadapan Ka’bah. Sementara dalam kondisi demikian, Fathimah binti Asad mendekati Ka’bah. Ia dalam keadaan hamil sembilan bulan dan sebentar lagi akan melahirkan. Di hadapan Ka’bah, ia mengangkat tangannya dan berdoa: “Ya Allah, Aku beriman kepada-Mu dan kepada yang datang dari sisi-Mu, baik itu Rasul atau Kitab. Aku membenarkan apa yang diucapkan oleh kakekku, Ibrahim Al-Khalil, bahwa ia yang membangun Ka’bah. Demi hak yang membangun Ka’bah, dan demi bayi yang berada dalam kandunganku, permudahkan kelahiran bayiku ini”.

Yazid melanjutkan: “Kemudian aku melihat Ka’bah terbuka menganga dan Fathimah melangkah masuk ke dalamnya. Kami tidak mengetahui lagi apa yang terjadi karena dinding yang seakan-akan dipecah itu kembali menutup seperti sediakala. Kami berlari mengambil kunci Ka’bah untuk membuka pintu, namun pintu tidak dapat terbuka. Akhirnya, kami mencoba memahami bahwa kejadian yang baru kami lihat tadi adalah kuasa Allah. Pada hari keempat semenjak masuk ke dalam Ka’bah, Fathimah keluar dari Ka’bah sambil menggendong seorang bayi kecil. Bayi kecil itu adalah Ali bin Abi Thalib a.s”.[12]

Kabar gembira ini secepatnya disampaikan kepada Abu Thalib dan keluarganya. Kegembiraan tampak di wajah mereka. Semuanya berebut ingin lebih dahulu melihat bayi. Muhammad Rasulullah adalah yang paling terdepan. Ia mengambil bayi itu kemudian menggendongnya. Ia membawa bayi yang baru lahir itu ke rumah Abu Thalib. Pada masa itu, Nabi telah menikah dengan Khadijah, namun masih tetap tinggal di rumah pamannya. Abu Thalib melihat bayinya dan memberinya nama Ali. Abu Thalib mengadakan perayaan menyambut kelahiran anaknya dan menyembelih banyak hewan.[13]

 

Catatan Kaki

  1. Muhammad bin Saad, Ath-thabaqat, jilid 1, hal 74, cetakan Leiden.
  2. As-Shaduq, Kamal Ad-Din, hal 170, cetakan Najaf Asyraf. Hal 172, cetakan Tehran dari Ibnu Abbas. Mausu’ah At-Tarikh Al-Islami, jilid 1, hal 285.
  3. Al-Fital, Raudhatul Wa’izhin, hal 121-122 tentang Washiyyah Abi Thalib Li Bani Hasyim.
  4. Ibnu Saad, Ath-thabaqat, jilid 1, hal 75.
  5. Ibnu Atsir, Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 2, hal 90. Lihat: Mausu’ah At-Tharikh Al-Islami, jilid 1, hal 436.
  6. Bihar Al-Anwar, jilid 35, hal 72. Lihat juga: As-Syeikh At-Thusi, Munyah At-Thalib fi Iman Abi Thalib. As-Syeikh Abdullah Al-Khunaizi, Abu Thalib Mu’minu Quraisy. Mausu’ah At-Tarikh Al-Islami, jilid 1, hal 514-517 dan 596-601.
  7. As-Shibagh Al-Maliki, Al-Fushul Al-Muhimmah, hal 31.
  8. Bashair Ad-Darajat, hal 71, hadis dari Imam Shadiq AS. Lihat Mausu’ah At-Tarikh Al-Islami, jilid 2, hal 433-437.
  9. Ibnu As-Shabagh, Al-Fushul Al-Muhimmah, hal 32. Faraid As-Simthain jilid 1, hal 379 : ‘Engkau telah melakukan hal yang tak pernah kau lakukan kepada orang lain’. Para perawi hadis dan penulis banyak mencatat keislaman Fathimah, hijrahnya, cinta dan kasih sayangnya ketika membesarkan Muhammad, kematian dan keutamannya. Ibnu Asakir, Ibnu Al-Atsir, Ibnu Abdi Birr, Muhib Ad-Din Ath-thabari, Muhammad bin Thalhah, Ibnu As-Shibagh Al-Baladzri dan lain-lainnya adalah contoh dari mereka yang mencatat semua itu.
  10. Shubh As-Shaleh, Nahjul Balaghah, khutbah 57, hal 92. At-thusi, Al-Amali, hal 364, nomor 765. Manaqib Alu Abi Thalib, jilid 2, hal 107. Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 4, hal 114. Bihar Al-Anwar, jilid 41, hal 217.
  11. Syarif Ar-Radhi, Khashais Amir Al-Mu’minin, hal 39. Al-Amini, Al-Ghadir, jilid 6, hal 22. Al-Hakim An-Naisyaburi, Al-Mustadrak, jilid 3, hal 483. Al-Hafizh Al-Kanji As-Syafi’I, Al-Kifayah. Al-Alusi, Al-Kharidah Al-Ghaibiyah fi Syarh Al-Qashidah al-‘Ainiyah. Al-Mas’udi, Muruj Az-Zahab. As-Sirah An-Nabawiyah. Mausu’ah At-Tarikh Al-Islami, jilid 1, hal 306-310.
  12. As-Shaduq, ‘Ilal As-Syarai’, hal 56. Al-Fital An-Naisyaburi, Raudhah Al-Wa’izhin, hal 67. Bihar Al-Anwar, jilid 35, hal 8. Al-Arbali, Kasyf Al-Ghummah, jilid 1, hal 82.
  13. Bihar Al-Anwar, jilid 35, hal 18

Check Also

Ayatullah Khamenei Ingatkan Pentingnya Persatuan Islam dihadapan Ratusan Ulama Sunni-Syiah

Konferensi Internasional pecinta Ahlulbait as dan pembahasan isu Takfiri digelar di Tehran dan dihadiri oleh …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *