Home / Sirah / Kisah Nabi Muhammad SAW (2)

Kisah Nabi Muhammad SAW (2)

Alquran al-Karim menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw masa kecilnya berlalu dalam keadaan yatim dan banyak dari sumber-sumber sejarah yang juga membuktikan hal tersebut. [1] Abdullah, ayah Muhamamd saw, beberapa bulan setelah melakukan pernikahan dengan Aminah putri Wahb, kepala suku dari kabilah Bani Zuhrah, pergi untuk melakukan perjalanan dagang ke Syam dan ketika pulang ia meninggal dunia di kota Yastrib. Sebagian para sejarawan menulis bahwa Abdullah meninggal dunia beberapa bulan setelah kelahiran Muhammad saw. Selanjutnya Muhammad saw menjalani masa penyusuannya pada seorang perempuan bernama Halimah, dari kabilah bani Sa’ad.

Di saat Muhammad berusia 6 tahun 3 bulan (dan menurut sebagian 4 tahun), ibunya Sayidah Aminah, telah membawanya ke Yatsrib untuk berkunjung ke rumah sanak dan familinya (dari pihak ibu Abdul Muththalib dari kabilah Bani Ady bin Najjar). Dan dalam perjalanan pulang ke Mekah, Sayidah Aminah meninggal dunia di daerah bernama Abwa’dan dipusarakan di sana. Sayidah Aminah ketika wafat berusia 30 tahun. [2] Setelah Sayidah Aminah wafat, Abdul Muththalib, kakek Nabi dari pihak ayah yang kemudian bertanggung jawab untuk mengasuh dan membesarkannya. Di usianya yang ke 8 tahun, Abdul Muththalib mengucapkan salam terakhirnya pada dunia dan Muhammad pun berada di bawah asuhan pamannya Abu Thalib. [3]

Pra Kebangkitan

Berkenaan dengan kehidupan Nabi Muhammad saw, banyak keterangan-keterangan dan penjelasan yang dimuat dalam teks-teks sejarah dan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang berkaitan dengan kehidupannya paling lengkap tercatat secara akurat, dibandingkan dengan nabi-nabi lainnya. Namun meskipun demikian, masih ada beberapa hal yang belum jelas secara terperinci mengenai hal-hal partikular dari kehidupannya dan terkadang masih ada kesamaran-kesamaran dan perbedaan pendapat tentangnya.

Awal Perjalanan Ke Syam dan Ramalan Seorang Pendeta Nasrani

Para sejarawan menulis bahwa Muhammad ketika kecil pernah mengadakan perjalanan bersama Abu Thalib, pamannya ke Syam dan di pertengahan jalan pada sebuah tempat bernama Bashra seorang pendeta Nasrani bernama Buhaira melihat tanda-tanda kenabian pada dirinya. Ia pun berpesan kepada Abu Thalib untuk menjaga Muhammad dari bahaya gangguan kaum Yahudi sebagai musuhnya. Dikarenakan para rombongan telah menjauh dari Bukhaira, pendeta tersebut menahan Muhammad sejenak dan berkata kepadanya, “Aku bersumpah, demi Latta dan Uzza, apa yang aku tanyakan padamu, jawablah!” Muhammad saw menjawab, “Jangan bertanya kepadaku dengan nama Latta dan Uzza, karena sesungguhnya tidak ada yang lebih aku benci dari kedua nama tersebut.” Kemudian Buhaira memberikan sumpah kepadanya dengan nama Allah swt.[4]

Dari peristiwa-peristiwa penting yang terjadi sebelum pernikahan Nabi Muhammad saw, adalah keikutsertaannya dalam sebuah perjanjian bernama Hilf al-Fudhul, di mana sebagian penduduk Mekah ketika itu juga ikut hadir dalam perjanjian tersebut supaya mereka “melindungi dari setiap orang yang terzalimi dan mengembalikan haknya”. Nabi saw di kemudian hari memuji perjanjian ini dan mengatakan bahwa seandainya sekali lagi beliau diajak untuk mengadakan perjanjian semacam ini, beliau akan ikut serta. [5] wikishia.net

 

Catatan Kaki

  1.  Syahidi, Tārikh Tahlile Islām, hlm. 37.
  2. Ayati, Tārikh Payāmbar Islām, hlm. 42.
  3. Syahidi, Tārikh Tahlile Islām, hlm. 37. -38.
  4. Syahedi, Tārikh Tahlile Islām, hlm. 38.
  5. Ibnu Hisyam, jld. 1, hlm. 141-142

Check Also

Sejarah Penggunaan Hijab

Pengetahuan saya tentang sejarah tidaklah sempurna. Kita baru bisa memberikan pandangan tentang berbagai budaya suku …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *