Home / Tabayun / Syiah dan Kotoran Imam

Syiah dan Kotoran Imam

Melihat fitnahan Wahabi terhadap Syiah mungkin adalah sebuah keniscayaan, karena selain memfitnah dan mencomot matan demi kepentingan perpecahan, mereka juga tidak segan membuat tokoh fiktif ulama Syiah untuk menguatkan klaim mereka dengan meyakinkan calon korbannya bahwa yang dikatakannya adalah valid.

Makan Kotoran Imam atau makan tai Imam adalah fitnahan yang dijejalkan kebenak kaum muslimin awwam, sehingga memicu kebencian mereka terhadap kelompok Syiah. Siapa yang suka kotoran? Bahkan Allah swt menciptakan fitrah kita untuk menjauhi hal-hal kotor dan Wahabi menjadikan Syiah sebagai musuh dari Fitrah kemanusiaan.

Selain menggunakan entah tokoh fiktif atau tokoh tidak terkenal dari kalangan Syiah, mereka menampilkan bukti-bukti orang Syiah sedang makan kotoran atau diguyur kotoran sebagai tabarrukan. Tentunya orang-orang Syiah sadar atas fitnahan tersebut karena orang yang membawa nampan sambil mengiba meminta makanannya dimakan, bukanlah kotoran, melainkan kurma yang sudah dicampur selai manisan khas Irak ketika acara Arbain berlangsung untuk menyambut para peziarah. Begitu pula yang mengguyur dirinya dengan kotoran, sesungguhnya bukan kotoran, melainkan tanah karbala yang dijadikan lumpur dan disiramkan ketubuhnya sebagai bentuk penyesalan terdalam tidak ikut hadir membela Imam Husein as dan keluarganya.

Ya, sebagian dari mereka menyesal karena masih keturunan kabilah yang memerangi Imam Husein dan sebagian kabilah yang memerangi Imam Ali as di Shiffin, Nahrawan dan peperangan lainnya. Untuk itu, mereka sebagai keturunan datuk-datuk yang berdiri dibarisan musuh Ahlul-bayt, sekarang menyesal dan memukul dirinya hingga berdarah dan mengguyur serta memandikan dirinya dengan lumpur Karbala sebagai bentuk penyesalan mereka.

Jika kita lihat riwayat Malik bin Asytar membunuh seribu pasukan dan Imam Ali as membunuh seribu pasukan, maka perbedaannya adalah Imam Ali as membunuh satu pasukan dengan melihat ketujuh turunannya tidak ada yang menjadi pecinta Ahlul-bayt dan jika ada pasukan musuh hanya dilukai Imam Ali as, maka Imam Ali as melihat dari keturunannya kelak akan lahir pecinta keluarga Ahlul-Bayt kenabian. Begitupula dengan Imam Husein as di karbala menyikapi musuh-musuhnya.

 

Syiah Makan Kotoran Imam?

Sebagai Syiah dan hidup ditanah Syiah, saya belum pernah melihat penduduk Iran dan Irak memakan Kotoran Imam. Terlebih Wahabi mengatakan setiap tahun orang-orang Syiah memakan kotoran Imam, mungkin yang dimaksud, peringatan Arbain dan sudah dikatakan sebelumnya itu bukan kotoran, melainkan lumpur tanah Karbala. Seandainya Orang Syiah makan kotoran Imam, bagaimana caranya mereka makan kotoran Imam yang sedang Ghaib semenjak beberapa abad yang lalu???

 

Kitab Anwarul Wilayah

Wahabi menisbahkan Syiah memakan Tahi Imam merujuk kepada Kitab Anwarul wilayah karya Mulla Zain ghulphegani, selain kitab itu tidak terkenal dan bukan kitab rujukan utama Fiqih Syiah, beberapa ulama mengatakan bahwa, jika itu benarpun tidak menjadi patokan sebagai akidah seluruh Syiah, melainkan pandangan pribadi beliau terhadap sesuatu. Jika benar ada Ulama Syiah meyakini kesucian darah dan kotoran Imam, itu tidak termasuk Ushuluddin dan tidak termasuk pula Dharuriatul Mazhab, melainkan pengetahuan tambahan setelah meyakini Kemaksuman Imam melewati Surat Al-Ahzab ayat 33.

Beberapa peneliti terkait kitab Anwarul Wilayah berpendapat bahwa Wahabi dan antek-antek perpecahan telah merubah dan mengganti isi matan dari kitab Anwarul Wilayah. Adapun matan asli dari kitab tersebut adalah:

ﺍﻟﻬﻴﺌﺔ ﻟﺪﻳﻬﺎ ﻭﻻ ﺳﻴﻤﺎ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻟﻢ ﺃﻛﻦ ﺭﺍﺋﺤﺔ ﺃﻱ ﺷﻲﺀ ﻭﻟﻜﻦ ﺗﻨﺒﻌﺚ ﻣﻨﻪ ﺭﺍﺋﺤﺔ ﺍﻟﻨﻔﻂ ﻋﺪﺩ ﻗﻠﻴﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻴﻮﺏ، ﻻ ﻳﺘﻌﺮﺿﻮﻥ ﺍﻟﻜﻬﻨﺔ ﺇﻟﻰ ﺑﺖ ﺍﻟﻨﺠﺲ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﻣﻦ ﻧﻌﻢ ﻫﻮ ﺩﺍﺋﻤﺎ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﺗﻨﻘﻴﺔ ﻫﺪﺍﺱ ﻫﺪﺍﺱ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮﺓ ﻭﺍﻟﺼﻐﻴﺮﺓ، ﺍﻟﻜﻬﻨﺔ ﺩﺍﺋﻤﺎ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺑﺤﻴﺚ ﺟﺴﺪﻩ ﻳﺒﻘﻰ ﺍﻟﻤﻘﺪﺳﺔ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺍﻟﻄﻘﻮﺱ .

“Tubuh Imam tidak memiliki bau sama sekali, melainkan baunya seperti minyak misk, para imam tidak terkena najis sedikitpun dari kotorannya selain iya selalu mensucikannya dari hadas besar maupun hadas kecil, para imam selalu melakukan wudhu sehingga tubuhnya tetap suci dari hadats.”

(Mulla Zainul Abideen-al- Galbaigani, dalam bukunya:kitabul anwar walayah rasul bab thaharah hal 440)

Namun beberapa peneliti lain berpendapat bahwa Wahabi mengada-ngadakan kitab Anwarul Wilayah kepada Mulla Zain Ghulpeghani karena kitab aslinya bukan Anwarul Wilayah, melainkan Anwarul Qudsiyah.

Wahabi seakan menjadikan dirinya sebagai Hakim Mutlak yang bebas melakukan apa saja dalam menghukumi Syiah. Salah satunya dengan menukil riwayat Imam Muhammad Baqir as,

قال أبو جعفر: للإمام عشر علامات: یولد مطهرا مختوناً وإذا وقع على الأرض وقع على راحته رافعا صوته بالشهادتین ولا یجنب، وتنام عینه ولا ینام قلبه، ولا یتثاءب ولا یتمطى ویرى من خلفه کما یرى من أمامه، ونجوه (فساؤه وضراطه وغائطه) کریح المسک

Abu Jafar berkata: “ciri-ciri Imam ada 10: Dilahirkan sudah dalam keadaan berkhitan, begitu menginjakkan kaki di bumi ia mengumandangkan dua kalimat syahadat, tidak pernah junub, matanya tidur, namun hatinya terjaga, tidak pernah menguap, melihat apa yang di belakangnya seperti melihat apa yang di depannya dan bau kotorannya bagaikan misik.”

(Al Kaafi1/319) Kitabul Hujjah Bab Maulidul Aimmah)

Adapun riwayat Imam Baqir as diatas setelah diteliti dalam Ilmu Rijal dan ilmu Jarh wa ta’dil dinukil dari Ali bin Muhammad dari -SEBAGIAN SAHABAT KAMI- dari Ibn Abi Umair dari Hariz dari Zurarah. Ulama Rijal Syiah berpendapat bahwa dalam riwayat tersebut terdapat “ Ba’dh ashabina” yang menyebabkan riwayat tersebut menjadi lemah, karena kelompok tersebut adalah kelompok “Uknown” tidak diketahui. Kemudian untuk alat perpecahan dan peperangan antar mazhab dan sebagai sumbu api permusuhan, walaupun dikalangan Syiah hadist tersebut lemah, wahabi tetap menjadikannya sebagai alat permusuhan dan perpecahan.

 

Kesaksian Mazandarani Pen-Syarh kitab al-Kafi

Ayatullah Mazandarani terkait riwayat diatas berkata,

وهذه العشرة وأمثالها مما ورد فی أحادیث الآحاد ولا یعتمد علیها.

Adapun hadis sepuluh tanda-tanda Imam yang diriwayatkan didalam hadis-hadis, sanadnya Ahad. Tidak bisa dijadikan sandaran.

(Syarh Ushul Kafi Mazandarani juz.6 hal.393)

Kebencian Wahabi terhadap Mazhab Syiah sudah menutupi fitrah dan akal mereka, sehingga tidak segan mengatakan kepada pengikut Mazhab Ahlul bayt sebagai penyantap kotoran Imam.

Photo dibawah ini adalah Photo yang selalu tampil disetiap Halaman Website mereka dan dipublish serta disebarkan tidak terhitung jumlahnya sampai hari ini. Tujuannya tidak lain ingin mengatakan kepada Masyarakat Awwam bahwa Pengikut Syiah bertolak belakang dengan Fitrah kemanusiaan dengan memakan Kotoran Imam mereka, sehingga masyarakat benci dan jijik terhadap Mazhab terbesar kedua setelah Ahlu Sunnah wal Jamaah ini.

Orang tua yang membawa nampan ini menangis mengharap Syafaat Abu Abdillah Al-Husein as dengan menjamu para Penziarah dengan Korma yang dilapisi selai sebagai jamuan khas rakyat Irak. Namun, malangnya orang tua Ikhlas ini di “Bully” Wahabi sebagai penjaja kotoran Imam. Walaupun pasti Orang Syiah sendiri akan bertanya kotoran Imam siapa? karena yang masih hidup hanyalah Imam Zaman as yang hingga kini Ghaib dari tengah-tengah kita.

Abu Syirin Al Hassan

Check Also

Analisis Hadits Tanduk Setan, Najd atau Irak?

Hadis Tanduk Setan : Kontroversi Najd dan Iraq? Hadis tanduk setan menjadi polemik yang berkepanjangan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *