Home / Umum / Sejarah Singkat Arbain dan Anjuran Ziarah Arbain

Sejarah Singkat Arbain dan Anjuran Ziarah Arbain

Dalam sebuah hadis dari Imam Askari as disebutkan bahwa terdapat lima tanda bagi orang beriman. Salah satunya adalah ziarah Arbain. [1] Demikian juga terdapat bacaan ziarah terkhusus untuk Arbain yang diriwayatkan dari Imam Shadiq as. [2] Syaikh Abbas Qummi mengutip bacaan ziarah ini dalam kitabnya Mafātih al-Jinān bab ketiga setelah ziarah Asyura ghaira ma’rufah, dengan judul ziarah Arbain.

Menurut hasil penelitian, perjalanan menuju Karbala pada hari Arbain telah mentradisi dalam umat Islam Syiah semenjak masa Imam Maksum. Bahkan disebutkan bahwa kaum Syiah tetap menjalankan tradisi ziarah Arbain ini pada masa kekuasaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Qadhi Thabathabai menilai bahwa tradisi ziarah Arbain ini sebagai tradisi setiap tahun kaum Syiah di sepanjang sejarah. [3]

Penulis buku Adab al-Thaff yang beredar pada tahun 1967 dalam laporannya atas pertemuan besar kaum Syiah pada peringatan Arbain Imam Husain di Karbala menyerupakan pertemuan itu seperti pertemuan kaum Muslim di Mekkah. Dalam buku itu disinggung tentang majelis-majelis duka disampaikan dalam bahasa Turki, Arab, Persia dan bahasa Urdu. Ia menegaskan bahwa tidak berlebihan, pada masa itu, terdapat kurang lebih satu juta orang yang turut serta pada ziarah Arbain Imam Husain as. [4]

Pemerintahan Saddam Husain dan Pelarangan Longmarch

Pada akhir abad ke-14, pemerintahan Ba’tsi memegang kendali kekuasaan di Irak. Mereka tahu bahwa longmarch Arbain ini merupakan simbol kekuatan politik (show force) kaum Muslim Syiah. Pemerintahan Saddam kemudian melarang adanya peringatan Arbain dan terkadang dengan kejam menyerang para peziarah. Larangan dan teror pemerintahan Ba’tsi ini membuat peringatan Arbain tidak begitu ramai. Mereka terkadang menyerang dengan menembakkan senjata dari darat atau menyerang dari udara. Tahun 1977 merupakan klimaks dari serangan ini dimana mereka menembak para peziarah di dekat kota Karbala. Dengan adanya larangan ini, sebagian Syiah secara diam-diam tetap pergi berziarah ke Karbala. Pada tahun itu juga, Ayatullah Muhammad Shadiq Shadr mengumumkan wajibnya ziarah Arbain.

Ramainya Peringatan Arbain di Tahun-tahun Terakhir

Setelah jatuhnya pemerintahan Ba’tsi (Saddam Husain) di Irak yang menjadi penghalang utama terselenggaranya pelbagai jenis majelis duka Imam Husain, untuk pertama kalinya pada tahun 2003, kaum Syiah bergerak menuju Karbala. Pada permulaan acara peringatan ini terdapat tiga juta orang yang hadir. Pada tahun-tahun setelahnya, jumlah peziarah dan peserta longmarch ini semakin membludak sehingga disebutkan terdapat lebih dari 10 juta orang yang turut meramaikan peringatan Arbain Imam Husain as. Pada tahun 2013 yang bertepatan dengan Arbain tahun 1435 H sebagian melaporkan bahwa terdapat 15 juta peziarah yang berpartisipasi pada ritual Arbain ini. 

 

Adab-adab dan Tradisi Ziarah

Membaca Huseh  adalah qasidah khusus yang dibacaka oleh masyarakat Arab dari Irak bagian selatan. Qasidah ini berisikan syair-syair yang menerangkan keberanian dan epik kepahlawanan yang membangkitkan semangat dan tekad untuk menunaikan pekerjaan-pekerjaan sulit dan besar. Setelah mendengarkan syair-syair ini, pendengar akan mengulang-ngulang satu lirik dari syair tersebut dan bergerak ke depan dengan membuat lingkaran-lingkaran. Membaca Huseh ini merupakan salah satu tradisi orang-orang Arab Irak dalam menyemarakkan peringatan Arbain dalam perjalanannya menuju Karbala.

Permulaan Acara Peringatan duka ini dimulai lima hari sebelum puncak hari Arbain dengan takziyah dan setelah menepuk-nepuk dada dan menganyungkan rantai puncak peringatan Arbain dimulai dua jam setelah waktu Dhuhur. Para peziarah akan berdiri di dekat pintu gerbang Haram Imam Husain as. Mereka mulai bergerak masuk dengan menepuk-nepuk dada dan membacakan kidung-kidung duka. Akhir acara menepuk-nepuk dada, mereka mengangkat tangannya sebagai tanda salam dan penghormatan kepada Imam Husain as.

Pemberian Hidangan kepada Para Peziarah Para kabilah yang tinggal di tepian sungai Furat mendirikan tenda-tenda yang disebut sebagai Mukib atau Mudhif di sepanjang jalan yang dilewati para peziarah. Mereka mendirikan tenda-tenda ini dengan tujuan untuk memberikan hidangan dan tempat istirahat kepada para peziarah. Para kabilah dan paguyuban-paguyuban banyak mendirikan tenda-tenda untuk memberikan pelayanan gratis kepada para peziarah. Mereka melakukan pelayanan dan mendirikan tenda-tenda ini dengan dana yang bersumber dari mereka sendiri (swadaya) bukan dari pemerintah.

 

Catatan Kaki

  1. Thusi, jld. 6, hlm. 62.
  2. Thusi, jld. 6, hlm. 113.
  3. Qadhi Thabathabai, hlm. 2.
  4. Syubbar, jld. 1, hlm. 41.

Check Also

10 Kriteria Suami Istri yang Baik dalam Sirah Nabi Saww

Pernikahan adalah sebuah tindakan suci yang memperoleh penekanan penting dalam ajaran Islam. Begitu pula, membentuk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *