Home / Taqrib / Konsep Taqiyah dalam Kitab Ahlusunnah

Konsep Taqiyah dalam Kitab Ahlusunnah

Cukup banyak dalam kitab sunni yang meriwayatkan tentang hal taqiyah. Secara umum taqiyah diartikan sebagai menyembunyikan sesuatu demi kebaikan. Berbeda dengan bohong, yang bermakna menyembunyikan sesuatu demi kebusukan.

Di bawah saya rujukan dari tiga kitab sunni tentang makna taqiyah.

  1. Hadits Imam Bukhari Nomor 2495 
    Telah menceritakan kepada kami [‘Abdul ‘aziz bin ‘Abdullah], telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Sa’ad], dari [Shalih], dari [Ibnu Syihab], bahwa [Humaid bin ‘Abdurrahman] mengabarkan kepadanya bahwa [ibunya, Ummu Kultsum binti ‘Uqbah, mengabarkan kepadanya bahwa dia mendengar Rasulullah SAWW bersabda: “Bukanlah disebut pendusta orang yang menyelesaikan perselisihan diantara manusia lalu dia menyampaikan hal hal baik (dari satu pihak yang bertikai) Aatau dia berkat hal hal yang baik”. [Shohih Bukhori. No 2495]
  2. Hadits Imam Muslim Nomor 4717
    Telah menceritakan kepadaku [Harmalah bin Yahya], telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Wahb], telah mengabarkan kepadaku [Yunus], dari [Ibnu Syihab], telah mengabarkan kepadaku [Humaid bin ‘Abdur Rahman bin ‘Auf] bahwa Ibunya [Ummu Kultsum bin ‘Uqbah bin Abu Mu’aith] -dan ia termasuk perempuan yang turut hijrah dalam kelompok pertama yang berbai’at kepada Rasulullah SAW- bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Orang yang mendamaikan pihak yang bertikai, orang yangkata demi kebaikan, dan orang yang membangkitkan (mengingatkan) kebaikan bukanlah termasuk pendusta.

    lbnu Syihab berkata: ”Saya tidak pernah mendengar diperbolehkannya dusta yang diucapkan oleh manusia kecuali dalam tiga hal, yaiti dusta dalam peperangan, dusta untuk mendamaikan pihak pihak yang bertikai, dan dusta suami terhadap istri atau istri terhadap suami  (untuk meraih kebahagiaan atau menghindari keburukan).  [Shohih Muslim. No 4717]

  3. Hadits Imam Ahmad Bin Hambal Nomor 26011
    menceritakan kepada kami [Ya’qub], yang berkata, telah menceritakan kepada kami [Bapakku], dari [Shalih bin Kaisan], yang berkata, telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Muslim bin ‘Ubaidullah bin Syihab], bahwa [Humaid bin Abdurrahman bin ‘Auf] mengabarkan kepadanya, bahwa ibunya [Ummu Kultsum binti ‘Uqbah] telah mengabarkan kepadanya, bahwa dirinya pernah mendengar Rasulullah SAWW bersabda: “Tidak dikatakan pendusta seseorang yang ingin mendamaimakan sesama manusia, kemudian ia menyampaikan kabar dengan baaik atau berkata yang baik”. [Musnad Ahmad. No 26011] [Lihat juga Musnad Ahmad. No 26013 dan 26017]

Check Also

Bukti Nyata Sunni dan Syiah Satu Jiwa di Lebanon

Selama ini, media-media takfiri Indonesia jungkir balik membangun opini, menyebarkan propaganda, termasuk melakukan penyesatan informasi, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *