Home / Taqrib / Sholawat Untuk Nabi dan Sahabatnya

Sholawat Untuk Nabi dan Sahabatnya

Di hari Asyura ini saya tidak memberikan jenang suro atau bubur Asyura. Saya akan memberikan status tentang hadis shalawat kepada Nabi SAW dan keluarganya. Hadis ini tentu sudah banyak diketahui orang. Alasannya pun sudah banyak. Tapi saya akan memberikan nama-nama ulama yang meriwayatkan wajibnya disertakan keluarga Nabi SAW dalam shalawat. Artinya, jika ada orang yang membaca shalawat tanpa keluarganya, itu namanya shalawat al-batra’. Atau disertakan di dalamnya para sahabat, itu tidak ada di dalam hadis mana pun. Tapi untuk para sahabat, saya mengikuti doa Syaikh Abubakar bin Salim dalam Wirid Shaghirnya, yaitu dengan mengucapkan:

ورضي الله تعالى عن اصحابه اجمعين

“Semoga Allah meridhai sahabat-sahabat Nabi SAW semuanya.”

Yang tidak mengerti balaghah biasanya mempermasalahkan kata semua ini. Yo wes karepmu, bodoh-bodohmu, ambil sendiri.

Lalu bagaimana dengan shalawat Nariyah yang menyertakan sahabat? Ini berbeda, ini seperti shalawat Nabi SAW yang dimohonkan kepada Allah atas orang-orang yang membawa sedekah untuk perjuangan ummat Islam, seperti kepada Abu Awfa dalam shahih Muslim: Allahumma shalli ‘ala Aali Abi Awfa. Atau hadis: Allahumma ij’al shawatika warahmatika ‘ala aali sa’d bin ubadah.

Dalam tradisi sunni, shalawat kepada Nabi SAW adalah kewajiban yang diperintahkan oleh Allah kepada muslimin. Bedanya, jika Allah yang bershalawat, maka shalawatnya adalah maghfirah-rahmat-dan seluruh anugerah Allah. Sedangkan shalawat yang kita ucapkan atas Nabi SAW dan keluarganya adalah permohonan kita agar Allah bershalawat kepada Nabi SAW dan keluarganya seperti yang diperintahkan oleh Allah. Bagaimana dengan shalawat kepada sahabat-sahabatnya? Itu adalah doa kita kepada para sahabat (yaitu siapa saja yang ‘udul yang hidup di zaman Nabi SAW dan mengimani Nabi SAW) seperti doa kita kepada para ulama yang kita cintai.

Baiklah, mengenai shalawat kepada Nabi SAW dan keluarganya, dalam al-Shawaiq al-Muhriqah karya Ibnu Hajar, disebutkan sebuah hadis yang berbunyi:

أنّ رسول الله صلّى الله عليه وآله قال لا تُصلُّوا عَلَيّ الصلاةَ البَتراء، قالوا وما الصلاةُ البَتراء! قال تقولون اللّهمّ صلِّ على محمّدٍ، وتُمسِكون، بل قولوا اللّهمّ صلِّ على محمّدٍ وعلى آلِ محمّد.

Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: janganlah kalian bershalawat kepadaku dengan shalawat al-batra’. Mereka bertanya: apa itu shalawat al-Batra’ (yang terputus)? Rasulullah bersabda: yaitu kalian berkata Allahumma shalli ala Muhammad, lalu kalian berhenti. Tapi ucapkanlah: Allahumma shalli ala Muhammad wa Aali Muhammad.
Dalam Sunan al-Daru Quthni juga disebutkan hadis seperti ini:

قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: من صلى صلاة لم يصل فيها علي ولا على أهل بيتي لم تقبل صلاته

Rasulullah SAW bersabda: Siapa saja yang melakukan shalat tapi tidak membaca shalawat kepadaku dan kepada keluargaku, maka shalatnya tidak diterima.

Ibnu Hajar dalam Shawaiq-nya dan al-Thabrani dalam al-Awsath meriwayatkan hadis ini:

أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم قال: الدعاء محجوب حتى يصل على محمد وأهل بيته .
Sesungguhnya Nabi SAW bersabda: Setiap doa itu tertutup hingga dibacakan shalawat kepada Nabi SAW dan keluarganya.

Perintah semacam ini dengan redaksi hadis yang berbeda (seperti shalawat ibrahimiyyah) diriwayatkan oleh ulama-ulama seperti al-Bukhari, al-Suyuthi, Ibnu Adil, Abu Hayyan, Imam Alauddin Ali al-Baghdadi, Ibnu al-Jauzi, Ibnu al-Athiyyah, Ibnu Mardawaih, al-Thabari, Ibnu Majah, Imam Ahmad, Abu Dawud, Nasai, Ibnu Huzaimah, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan masih banyak lagi.

Yuk perbanyak shalawat di hari Asyura ini, semoga orang-orang yang membunuh al-Husain dan keluarganya dilaknat oleh Allah SWT, seperti halnya Nabi SAW melaknat Muawiyah dan Yazid saat bepergian menaiki himar. Muawiyah yang memimpin di depan, Yazid mengikutinya. Lalu Rasulullah SAW bersabda:

لعن الله القائد والراكب والسائق

Semoga Allah melaknat orang yang memimpin, orang yang berkendara, dan orang yang mengikutinya di belakang. (Lihat Tarikh Thabari, Tarikh Abi al-Fida’, Majma’ al-Zawaid, dan Tadzkirah al-Khawash Ibnu Jauzi).

Khoiron Mustafid

Check Also

Cinta Tanah Air, Spiritualitas Membela Negara

Bela Negara Secara Umum Dalam konteks filosofi cinta adalah sebuah aksi atau kegiatan aktif yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *