Home / Sirah / Ensiklopedia Syiah bag 2, Sekte-Sekte dalam Syiah.

Ensiklopedia Syiah bag 2, Sekte-Sekte dalam Syiah.

Selain membedakan Syiah dengan aliran-aliran Islam lainnya, persoalan imamah juga menimbulkan sekte-sekte dalam Syiah itu sendiri. Semua sekte Syiah sepakat bahwa imam yang pertama adalah Ali bin Abi Talib, kemudian Hasan bin Ali, lalu Husein bin Ali. Namun, setelah itu muncul perselisihan mengenai siapa pengganti Imam Husein. Dalam hal ini muncul dua kelompok dalam Syiah. Kelompok pertama meyakini imamah beralih kepada Ali bin Husein – Zainal Abidin, putra Husein bin Ali. Sedangkan kelompok lainnya meyakini bahwa imamah beralih kepada Muhammad bin Hanafiyah, putra Ali bin Abi Talib dari istri bukan Fatimah.

Akibat perbedaan antara kedua kelompok ini, muncullah berbagai sekte dalam Syiah. Sebagian di antara sekte-sekte ini sebetulnya tidak dapat disebut sebagai sekte atau aliran karena hanya merupakan pandangan seseorang atau sekelompok kecil saja. Para penulis klasik berselisih tajam mengenai jumlah sekte dalam Syiah. Akan tetapi, para ahli umumnya membagi sekte Syiah dalam empat golongan besar, yaitu Imamiyah, Kaisaniyah, Zaidiah, dan Kaum Gulat.

 

Golongan Imamiyah. 

Imamiyah adalah golongan yang meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW telah menunjuk Ali bin Abi Talib sebagai imam penggantinya dengan penunjukan yang jelas dan tegas. Oleh karena itu, mereka tidak mengakui keabsahan kepemimpinan Abu Bakar, Umar, maupun Usman. Bagi mereka, persoalan imamah adalah salah satu persoalan pokok dalam agama atau ushuluddin.

Sekte Imamiyah pecah menjadi beberapa golongan. Yang terbesar adalah golongan Itsna ‘Asyariyah atau Syiah Dua Belas. Golongan kedua terbesar adalah golongan Ismailiyah. Dalam sejarah Islam, kedua golongan sekte Imamiyah ini pernah memegang puncak kepemimpinan politik Islam. Golongan Ismailiyah berkuasa di Mesir dan Baghdad. Di Mesir, golongan Ismailiyah berkuasa melalui Dinasti Fatimiyah. Pada waktu yang sama, golongan Itsna ‘Asyariyah dengan Dinasti Buwaihi menguasai kekhalifahan Abbasiyah selama kurang lebih satu abad.

Semua golongan yang bernaung dengan nama Imamiyah ini sepakat bahwa imam pertama adalah Ali bin Abi Talib, kemudian secara berturut-turut Hasan, Husein, Ali bin Husein, Muhammad al-Baqir, dan Ja’far as-Sadiq. Sesudah itu mereka berbeda pendapat mengenai siapa imam pengganti Ja’far as-Sadiq. Di antara mereka ada yang meyakini bahwa jabatan imamah tersebut pindah ke anaknya, Musa al-Kazim. Keyakinan ini kemudian melahirkan sekte Itsna ‘Asyariyah atau Syiah Dua Belas. Sementara yang lain meyakini bahwa  imamah pindah ke putra Ja’far as-Sadiq, Isma’il bin Ja’far as-Sadiq, sekalipun ia telah meninggal dunia sebelum Ja’far as-Sadiq sendiri. Mereka ini disebut golongan Ismailiyah. Sebagian lain menganggap bahwa jabatan imamah berakhir dengan meninggalnya Ja’far as-Sadiq. Mereka disebut golongan al-Waqifiyah atau golongan yang berhenti pada Imam Ja’far as-Sadiq.

Sekte Itsna ‘Asyariyah atau Syiah Dua Belas merupakan sekte terbesar Syiah dewasa ini. Sekte ini meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW telah menetapkan dua belas orang imam sebagai penerus risalahnya, yaitu (1) Ali bin Abi Talib, (2) Hasan bin Ali, (3) Husein bin Ali, (4) Ali bin Husein Zainal Abidin, (5) Muhammad al-Baqir, (6) Ja’far as-Sadiq, (7) Musa al-Kazim, (8) Ali ar-Rida, (9) Muhammad al-Jawad, (10) Ali al-Hadi, (11) Hasan al-Askari, dan (12) Muhammad al-Muntazar (al-Mahdi).

Golongan Itsna ‘Asyariyah percaya bahwa kedua belas imam tersebut adalah maksum (manusia-manusia suci). Apa yang dikatakan dan dilakukan mereka tidak akan bertentangan dengan kebenaran karena mereka selalu dijaga Allah SWT dari perbuatan-perbuatan salah dan bahkan dari kelupaan.

Menurut Syiah Dua Belas, jabatan imamah berakhir pada Imam Muhammad al-Muntazar bin Hasan al-Askari. Sesudah itu, tidak ada imam-imam lagi sampai hari kiamat. Namun, Imam Muhammad al-Muntazar bin Hasan al-Askari ini atau yang lebih dikenal dengan sebutan Imam Mahdi, diyakini belum mati sampai saat ini. Menurut mereka Imam Mahdi masih hidup, tetapi tidak dapat dijangkau oleh umum dan nanti pada akhir zaman Imam Mahdi akan muncul kembali. Dengan kata lain, Imam Muhammad al-Muntazar diyakini gaib.

Menurut Syiah Dua Belas, selama dalam masa kegaiban Imam Mahdi, jabatan kepemimpinan umat, baik dalam urusan keagamaan maupun urusan kemasyarakatan dilimpahkan kepada fukaha (ahli hukum Islam) atau mujtahid (ahli agama Islam yang telah mencapai tingkat ijtihad mutlak). Fukaha atau mujtahid ini harus memenuhi tiga kriteria. Pertama, faqahah, yaitu ahli dalam bidang agama Islam. Kedua, ‘adalah (adil), takwa, dan istiqamah (konsisten) dalam menjalankan aturan-aturan agama. Ketiga, kafa’ah, yaitu memiliki kemampuan memimpin dengan baik. Mujtahid atau fakih yang menggantikan jabatan Imam Mahdi itu disebut na’ib al-imam, atau wakil imam. Ayatullah Rohullah Khomeini, misalnya, adalah salah seorang na’ib al-imam tersebut.

Sebagai sekte Syiah terbesar, kelompok Syiah Dua Belas sebenarnya bukan golongan Imamiyah atau golongan yang hanya memusatkan perhatian pada persoalan imamah semata, tetapi juga merupakan golongan yang terlibat aktif dalam pemikiran-pemikiran keislaman lainnya seperti teologi, fikih dan filsafat. Dalam teologi, sekte Itsna ‘Asyariyah ini dekat dengan golongan Muktazilah, tetapi dalam persoalan pokok-pokok agama mereka berbeda. Pokok-pokok agama menurut Syiah Dua Belas ini adalah at-tauhid (tauhid), al-‘adl (keadilan), an-nubuwwah (wahyu, kenabian), al-imamah (kepemimpinan), dan al-ma’ad (tempat kembali setelah meninggal). Sementara itu dalam bidang fikih, mereka tidak terikat pada satu mazhab fikih mana pun. Menurut sekte ini, selama masa kegaiban Imam Mahdi urusan penetapan hukum Islam harus melalui ijtihad dengan berlandaskan pada Al-Qur’an, hadis atau sunah Nabi Muhammad SAW, hadis atau sunah Imam Dua Belas, ijmak, dan akal.

Sekte Ismailiyah, sekte terbesar kedua dalam golongan Imamiyah, adalah golongan yang mengakui bahwa Ja’far as-Sadiq telah menunjuk Isma’il, anaknya, sebagai imam penggantinya sesudah ia wafat. Akan tetapi, karena Isma’il bin Ja’far as-Sadiq telah meninggal lebih dahulu maka sebenarnya penunjukan itu dimaksudkan kepada anak Isma’il, yaitu Muhammad bin Isma’il. Muhammad bin Isma’il lebih dikenal dengan sebutan Muhammad al-Maktum (Ar.: al-maktum = menyembunyikan diri).

Golongan Ismailiyah berpendapat, selama seorang imam belum mempunyai kekuatan yang cukup untuk mendirikan kekuasaan maka imam tersebut perlu menyembunyikan diri; baru setelah merasa cukup kuat ia akan keluar dari persembunyiannya. Selama masa persembunyiannya itu, sang imam memerintahkan utusan-utusannya untuk menggalang kekuatan. Oleh karena itu, beberapa imam sesudah Muhammad al-Maktum selalu menyembunyikan diri sampai masa Abdullah al-Mahdi yang kemudian berhasil mendirikan dan menjadi khalifah pertama Dinasti Fatimiyah di Mesir. Imam yang menyembunyikan diri ini disebut al-imam al-maur.

Sebagian dari penganut sekte ini percaya bahwa sebenarnya Isma’il bin Ja’far tidak meninggal dunia, melainkan hanya gaib dan akan kembali lagi ke dunia nyata pada akhir zaman. Mereka disebut sekte as-Sab’iyah atau golongan yang mempercayai tujuh imam. Untuk sekte ini, imam terakhir adalah Isma’il bin Ja’far.

Golongan Ismailiyah sampai saat ini masih ada, namun jumlah mereka sedikit sekali. Pengikut sekte ini terutama di India. Aga Khan adalah salah seorang imam Ismailiyah.

Golongan Kaisaniyah.

Kaisaniyah adalah sekte Syiah yang mempercayai kepemimpinan Muhammad bin Hanafiyah setelah wafatnya Husein bin Ali. Nama Kaisaniyah diambil dari nama seorang bekas budak Ali bin Abi Talib, Kaisan, atau dari nama Mukhtar bin Abi Ubaid yang juga dipanggil dengan nama Kaisan.

Sekte Kaisaniyah terpecah menjadi dua kelompok. Pertama, yang mempercayai bahwa Muhammad bin Hanafiyah sebenarnya tidak mati, tetapi hanya gaib dan akan kembali lagi ke dunia nyata pada akhir zaman. Mereka menganggap, Muhammad bin Hanafiyah adalah Imam Mahdi yang dijanjikan itu. Yang termasuk golongan Kaisaniyah di antaranya sekte al-Karabiyah, pengikut Abi Karb ad-Darir. Kedua, kelompok yang mempercayai bahwa Muhammad bin Hanafiyah telah mati, tetapi jabatan imamah beralih kepada Abi Hasyim bin Muhammad bin Hanafiyah. Yang termasuk kelompok ini adalah sekte Hasyimiyah, pengikut Abi Hasyim. Sekte ini terpecah-pecah setelah meninggalnya Abi Hasyim.

Menurut Ibnu Khaldun, di antara sekte Hasyimiyah yang pecah menjadi beberapa kelompok tersebut adalah para penguasa pertama Dinasti Abbasiyah, yaitu Abu Abbas as-Saffah dan Abu Ja’far al-Mansur. Ibnu Khaldun selanjutnya menyatakan bahwa setelah meninggalnya Abi Hasyim, jabatan imamah berpindah kepada Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, kemudian secara berturut-turut kepada Ibrahim al-Imam, as-Saffah, dan al-Mansur.

Sekte Kaisaniyah ini telah lama musnah. Namun, kebesaran dan kehebatan nama Muhammad bin Hanafiyah ini masih dapat dijumpai dalam cerita-cerita rakyat, seperti yang terdapat dalam cerita-cerita rakyat Aceh dan hikayat Melayu yang terkenal, Hikayat Muhammad Hanafiah. Hikayat ini telah dikenal di Malaka sejak abad ke-15.

Golongan Zaidiah.

Zaidiah adalah sekte dalam Syiah yang mempercayai kepemimpinan Zaid bin Ali bin Husein Zainal Abidin setelah kepemimpinan Husein bin Ali. Mereka tidak mengakui kepemimpinan Ali bin Husein Zainal Abidin seperti yang diakui sekte Imamiyah, karena menurut mereka Ali bin Husein Zainal Abidin dianggap tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin.

Dalam Zaidiah, seseorang baru diangkat sebagai imam apabila memenuhi lima kriteria, yakni keturunan Fatimah binti Muhammad SAW, berpengetahuan luas tentang agama, zahid (hidup hanya dengan beribadah), berjihad di jalan Allah SWT dengan mengangkat senjata, dan berani. Disebutkan bahwa sekte Zaidiah mengakui keabsahan khilafah atau imamah Abu Bakar as-Siddiq (khalifah pertama), dan Umar bin Khattab (khalifah kedua).

Dalam teologi mereka disebutkan bahwa mereka tidak menolak prinsip imamah al-mafdhul ma’a wujud al-afdhal, yaitu bahwa seseorang yang lebih rendah tingkat kemampuannya dibanding orang lain yang sezaman dengannya dapat menjadi imam atau pemimpin, sekalipun orang yang lebih tinggi dari dia itu masih ada. Dalam hal ini, Ali bin Abi Talib dinilai lebih tinggi daripada Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Oleh karena itu, sekte Zaidiah ini dianggap sekte Syiah yang paling dekat dengan sunah.

Dalam persoalan imamah, sekte Zaidiah ini berbeda pendapat dengan sekte Itsna ‘Asyariyah atau Syiah Dua Belas yang mengaggap bahwa jabatan imamah harus dengan nas. Menurut Zaidiah, imamah tidak harus dengan nas tetapi boleh dengan ikhtiar atau pemilihan.

Dari segi teologi, penganut paham Zaidiah ini beraliran teologi Muktazilah. Oleh karena itu, tidak heran kalau sebagian tokoh-tokoh Muktazilah, terutama Muktazilah Baghdad, berasal dari kelompok Zaidiah. Di antaranya adalah Qadi Abdul Jabbar, tokoh Muktazilah terkenal yang menulis kitab Syarh al-Ushul al-Khamsah. Hal ini bisa terjadi karena adanya hubungan yang dekat dengan pendiri Muktazilah, Wasil bin Ata, dan Imam Zaid bin Ali. Akibatnya muncul kesan bahwa ajaran-ajaran Muktazilah berasal dari Ahlulbait atau bahkan sebaliknya, justru Zaid bin Ali yang terpengaruh oleh Wasil bin Ata sehingga ia mempunyai pandangan-pandangan yang dekat dengan sunah.

Sekte-sekte yang berasal dari golongan Zaidiah yang muncul kemudian adalah Jarudiyah, Sulaimaniyah, dan Batriyah atau as-Salihiyah.

Sekte Jarudiyah adalah pengikut Abi Jarud Ziyad bin Abu Ziyad. Sekte ini menganggap bahwa Nabi Muhammad SAW telah menentukan Ali sebagai pengganti atau imam setelahnya. Akan tetapi penentuannya tidak dalam bentuk yang tegas, melainkan dengan isyarat (menyinggung secara tidak langsung) atau dengan al-wasf (menyebut-nyebut keunggulan Ali dibandingkan yang lainnya).

Sekte Sulaimaniyah adalah pengikut Sulaiman bin Jarir. Sekte ini beranggapan bahwa masalah imamah adalah urusan kaum muslimin, yaitu dengan sistem musyawarah sekalipun hanya oleh dua tokoh muslim. Bagi mereka, seorang imam tidak harus merupakan yang terbaik di antara kaum muslimin. Oleh karena itu, sekalipun yang layak jadi khalifah sesudah Nabi Muhammad SAW adalah Ali bin Abu Talib, akan tetapi kepemimpinan Abu Bakar dan Umar bin Khattab adalah sah. Hanya dalam hal ini umat telah melakukan kesalahan karena tidak memilih Ali. Namun, mereka tidak mengakui kepemimpinan Usman bin Affan karena menurut mereka Usman telah menyimpang dari ajaran Islam. Sekte Sulaimaniyah ini juga disebut al-Jaririyah.

Sekte Batriyah atau as-Salihiyah adalah pengikut Kasir an-Nu’man al-Akhtar atau pengikut Hasan bin Saleh al-Hayy. Pandangan mereka mengenai imamah sama dengan pandangan sekte Sulaimaniyah. Hanya saja dalam masalah Usman bin Affan, sekte Batriyah tidak memberikan sikapnya. Mereka berdiam diri atau tawaqquf. Menurut al-Bagdadi (ahli usul fikih), sekte ini adalah sekte Syiah yang paling dekat dengan Ahlusunah. Oleh karena itu, Imam Muslim meriwayatkan beberapa hadis dalam kitabnya Sahih Muslim dari Hasan bin Saleh al-Hayy.

Kaum Gulat. 

Kaum Gulat adalah golongan yang berlebih-lebihan dalam memuja Ali bin Abi Talib atau imam-imam lain dengan menganggap bahwa para imam tersebut bukan manusia biasa, melainkan jelmaan Tuhan atau bahkan Tuhan itu sendiri. Menurut al-Bagdadi, kaum Gulat telah ada sejak masa Ali bin Abi Talib. Mereka memanggil Ali dengan sebutan “anta, anta” yang berarti “engkau, engkau”. Yang dimaksud di sini adalah : engkau adalah Tuhan. Menurut al-Bagdadi, sebagian dari mereka sempat dibakar hidup-hidup oleh Ali bin Abi Talib. Tetapi pemimpin mereka, Abdullah bin Saba, hanya dibuang ke Madain.

Sebagian ulama berpendapat, Kaum Gulat tidak dapat digolongkan dalam kelompok Syiah karena mereka telah jauh menyimpang dari ajaran Islam terutama dalam masalah tauhid. Di antara mereka ada yang menyalahkan atau bahkan mengutuk Ali bin Abi Talib karena tidak menuntut haknya sebagai pengganti atau khalifah sesudah Nabi Muhammad SAW. Hal ini berlawanan dengan ajaran Syiah, karena inti ajaran Syiah justru memuliakan Ali bin Abi Talib.

Dalam Syiah sendiri, sebagaimana yang disebutkan Ibnu Khaldun dan ulama-ulama Syiah, Kaum Gulat dipandang sebagai golongan yang sesat dan tidak diakui sebagai sekte Syiah, bahkan juga tidak sebagai golongan Islam sekalipun. Dalam sebuah riwayat Syiah disebutkan bahwa suatu hari Bisyar as-Syairi, seorang Gulat, datang ke rumah Ja’far as-Sadiq, Imam Ja’far mengusirnya seraya berkata, “Sesungguhnya Allah telah melaknatmu. Demi Allah, aku tidak suka seatap denganmu.” Ketika as-Syairi keluar, Ja’far as-Sadiq berkata kepada pengikutnya, “Celakalah dia. Ia adalah setan, anak dari setan. Dia lakukan ini untuk menyesatkan sahabat dan Syiahku; maka hendaklah berhati-hati terhadapnya. Orang-orang yang telah tahu akan hal ini hendaknya menyampaikan kepada orang lain bahwa aku adalah hamba Allah dan anak seorang perempuan, hamba-Nya. Aku dilahirkan dari perut seorang wanita. Sesungguhnya aku akan mati dan dibangkitkan kembali pada hari kiamat, dan aku akan ditanya tentang perbuatan-perbuatanku.”

Kaum Gulat dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan, yaitu golongan as-Sabaiyah dan golongan al-Gurabiyah. Golongan as-Sabaiyah, berasal dari nama Abdullah bin Saba, adalah golongan yang menganggap bahwa Ali bin Abi Talib adalah jelmaan dari Tuhan atau bahkan Tuhan itu sendiri. Menurut mereka, sesungguhnya Ali masih hidup. Yang terbunuh di tangan Abdur Rahman bil Muljam di Kufah itu sesungguhnya bukanlah Ali, melainkan seseorang yang diserupakan Tuhan dengan Ali. Menurut mereka, Ali telah naik ke langit dan di sanalah tempatnya. Petir adalah suaranya dan kilat adalah senyumnya.

Adapun golongan al-Gurabiyah adalah golongan yang tidak seekstrem as-Sabaiyah dalam memuja Ali bin Abi Talib. Menurut mereka, Ali adalah manusia biasa, tetapi dialah seharusnya yang menjadi utusan Allah SWT, bukan Nabi Muhammad SAW. Namun karena Malaikat Jibril salah alamat, sehingga wahyu yang seharusnya ia sampaikan kepada Ali malah ia sampaikan kepada Muhammad SAW, maka akhirnya Allah SWT mengangkat Muhammad SAW.

Akhir-akhir ini muncul beberapa penelitian, seperti yang dilakukan oleh Murtaza Askari dan Taha Husein, yang menyimpulkan bahwa sebenarnya tokoh yang bernama Abdullah bin Saba itu adalah tokoh fiktif yang tidak pernah ada dalam sejarah Islam. Dalam sejarah, Abdullah bin Saba dikatakan sebagai penganut agama Yahudi, kemudian masuk Islam pada masa Usman bin Affan. Ia menghasut umat Islam untuk memberontak terhadap Usman dan menimbulkan keonaran di kalangan umat Islam. Di antara keberatan-keberatan terhadap adanya tokoh ini adalah begitu besarnya pengaruh yang dimilikinya terhadap umat Islam, bahkan terhadap sahabat-sahabat. (al-shia.org)

Check Also

Memaknai Kembali Khotbah Historis Sayyidah Zainab di Hadapan Yazid

  Peran wanita dalam gerakan Tauhid dan Islam sama sekali tidak bisa dipungkiri. Puncaknya adalah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *