Home / Tabayun / Perbedaan Rukun Iman Syi’ah dan Ahlusunnah

Perbedaan Rukun Iman Syi’ah dan Ahlusunnah

Semakin banyak Para Penabur Fitnah murahan itu berbicara memfitnah Mazhab Syi’ah semakin tampak kejahilan dan kebangkrutan logika mereka. Kebodohan demi kebodohan dan kekerdilan logika tak hentik-hentinya mereka pamerkan! Kini mereka berupaya membodohi kaum awam bahwa Syi’ah itu sesat dan keluar dari Islam karena rukun imamnya berbeda, mereka menyebut bahwa:

Rukun [1] Imam Syi’ah Vs Rukun Imam Ahlusunnah!

Ahlussunnah : Rukun Islam kita ada 5 (lima)

  • Syahadatain
  • As-Sholah
  • As-Shoum
  • Az-Zakah
  • Al-Haj

 Syiah : Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:

  • As-Sholah
  • As-Shoum
  • Az-Zakah
  • Al-Haj
  • Al wilayah

Ahlussunnah : Rukun Iman ada 6 (enam) :

  • Iman kepada Allah
  • Iman kepada Malaikat-malaikat Nya
  • Iman kepada Kitab-kitab Nya
  • Iman kepada Rasul Nya
  • Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat
  • Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.

Syiah : Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)*

  • At-Tauhid
  • An Nubuwwah
  • Al Imamah
  • Al Adlu
  • Al Ma’ad [2]

Lalu setelahnya mereka menyimpulkan bahwa Syi’ah tidak beriman kepada: Qadha’ dan Qadar, para malaikat dan kitab-kitab Allah!

Dengan kejahilan mereka yang memusuhi Ahlulbait Nabi saw dan Syi’ahnya, sebab jika mereka tidak sejahil itu tidak mungkin mereka bergabung bersama kaum munafik untuk memusuhi kebenaran! Tetapi yang bikin agak heran, mengapa mereka tidak malu memamerkan kejahilan memalukan yang mencerminkan kebangkrutan logika sehat itu! Mungkin mereka beranggapan bahwa para pembaca tulisan mereka itu adalah kaum sufahâ’ (kaum bodoh lagi dungu) padahal justru merekalah yang sufahâ’. Allah berfirman:

أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لاَّ يَعْلَمُوْنَ

“Ingatlah, sesungguhnya merekalah  orang-orang yang tolol, akan tetapi mereka tidak tahu.” (QS. 2;13)

Dengan logika jongkok kaum kerdil itu, Syi’ah segera dituduh tidak percaya kepada para malaikat, kitab-kitab dan qadha dan qadar! Dan karenanya pula Syi’ah divonis sesat dan kafir!

Sungguh hebat “kejelian penyimpulan” kaum Pemfitnah bayaran itu! Karena Syi’ah tidak menyebutnya dalam Rukun Iman mereka maka berarti Syi’ah tidak beriman kepadanya!

Tidak banyak  katakan untuk menjawab kejahilan kaum Pemfitnah itu sebab waktu saya jauh lebih berharga dari menanggapi kejahilan murahan kaum jahil itu. Saya hanya ingin mengatakan:

A) Apa pendapat kalian tentang hadis shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya,1/30 Bab al Imân Ma Huwa wa Bayâni Khishalihi:

Hadis Bukhari:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ مَا الْإِيمَانُ قَالَ الْإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ

(http://hadith.al-islam.com/Page.aspx?pageid=192&BookID=24&TOCID=40)

 

Hadis Muslim

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَارِزًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِيمَانُ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكِتَابِهِ وَلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ الْآخِرِ

(http://hadith.al-islam.com/Page.aspx?pageid=192&TOCID=10&BookID=25&PID=81)

.

Hadis di atas menyebutkan bahwa Rukun Imam itu hanya:

  1. Beriman kepada Allah,
  2. Kepada para malaikat,
  3. Kepada kitab-Nya,
  4. Perjumpaan dengan-Nya,
  5. Kepada para rasul.

Tidak ada sebutan apapun tentang kewajiban percaya kepada Qadha’ dan Qadar?!Apakah berarti Rukun Imannya Rasulullah saw. berbeda dengan Rukun Imannya Ahlusunnah? Sehingga beliau harus dituduh tidak berimam karena tidak mengimani qadha’ dan qadar?! Dan yang lebih konyol lagi, bahwa Rukun Iman itu tidak menyebut-nyebut Keimanan kepada Kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad saw. secara khusus!

B)    Apa Pendapat Anda terhadap hadis shahih dalam riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya,1/35 Bab al Amru Bil Imân Billah wa rasûluhi, seperti di bawah ini:

قَالَ أَمَرَهُمْ بِالْإِيمَانِ بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَقَالَ هَلْ تَدْرُونَ مَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَأَنْ تُؤَدُّوا خُمُسًا مِنْ الْمَغْنَمِ

“Aku perintahkan kamu agar berimanan hanya kepada Allah! Tahukan kamu apa iman kepada Allah itu? Mereka menjawab: Tidak. Beliau bersabda: Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah, menegakkan shalat, membayar zakat, puasa bulan ramadhan dan membayar khumus (seperlima dari keuntungan/perolehan).”

(http://hadith.al-islam.com/Page.aspx?pageid=192&TOCID=15&BookID=25&PID=95)

.

Hadis di atas menegaskan bahwa inti keimanan itu sebagai berikut:

  1. Bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah,
  2. Dan bersaksi Muhammad adalah Rasul Allah,
  3. Menegakkan shalat,
  4. Membayar zakat,
  5. Membayar khumus.

Sementara dalam riwayat lain selanjutnya disebutkan poin yang berbeda yaitu: (*) berpuasa bulan ramadhan, sehingga pilar keimanan itu menjadi berbeda. Dalam hadis pertama tidak ada sebutan tentang puasa bulan Ramadhan, sementara dalam hadis kedua ada sebutan tentang puasa Ramadhan!

Selain itu, apakan tiga atau empat poin selain beriman kepada Allah dan Rasul-Nya juga termasuk dalam Rukun/Pilar keimanan? Lalu apa bedanya dengan Rukun Islam yang diyakini Ahlusunnah?!

C)    Dalam Rukun Imam Ahlusunnah tidak disebutkan keimanan kepada keadilan Allah yang Maha Adil. Lalu apakah itu berarti Ahlusunnah tidak mengimani bahwa Allah itu Maha Adil. Atau dengan kata lain bahwa Ahlusunnah mengimani bahwa Allah itu ZALIM?!

D)    Jika jawaban kalian mengatakan tidak demikian keimanan kita. Kami beriman bahwa Allah Maha Adil. Lalu mengapakah tidak kalian sebut dalam poin Rukun Imam!

E)     Apapun jawaban para ulama Ahlusunnah terhadapnya itu juga jawaban kami dalam membantah kaum Pemfitnah, khususnya kaum Wahhâbi-Salafi (yang sudah mulai mempekerjakan sebagian uztadz-ustadz Sunni untuk menggempur Mazhab Syi’ah!) ketika mereka menuduh Syi’ah tidak mengimani kitab-kitab para rasul dan qadha’ dan qadar hanya kerena alasan lugu (baca: dungu) bahwa hal-hal tersebut tidak disebutkan dalam poin Rukun Imam Syi’ah!

F)     Jika benar demikian bahwa Rukun Iman kalian adalah seperti yang kalian sebutkan, lalu mengapakah kalian begitu “ngotot” sampai-sampai kerongkongan para penjaual fitnah di atas-atas mimbar naas itu seakan hendak meladak menghujat Syi’ah karena mereka tidak mengimani kekhalifahan tiga Khalifah sebelum Imam Ali as.?! Mengapakah demikian? Bukankan ia bukan bagian dari Rukun Iman? Bahwa sama sekali ia bukan bagian dari keyakinan. Ia bagian dari urusan fikih. Bukankah demikian?! Jika kalian tidak mengerti bahwa masalah imamah/khilafah itu adalah bagian dari masalah furûiyah, maka alangkan jahil dan memalukannya kalian!! Jika sudah mengerti, lalu mengapakah kalian berkelakuan seperti orang jahil?!

G)    Dan akhirnya, saya hendak bertanya, apa yang akan kalian lakukan terhadap hadis-hadis shahih dari Nabi saw. dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang menegaskan bahwa dengan sekedar mengiman Allah dan kerasulan Nabi Muhammad saw. seorang telah dipastikan beriman dan pasti masuk surga?

Akhirul Kalam

Dan akhirnya, kami berharap kalian mau membuka mata kalian untuk membaca ulasan akidah Islam yang ditulis oleh para ulama Syi’ah, baik klasik maupun kontemporer… baca kitab-kitab Syeikh Shadûq, Syeikh Mufid, Sayyid al Murtadha, al Karâjiki, Allamah al Hilli, Khawaja Syeikh Nashiruddîn ath Thusi… juga kitab-kitab Syeikh Muhammad Ridha al Mudhaffar, Syeikh Kyasf al Ghithâ’, Allamah Thabathabai, Syeikh Allamah Ja’far Subhâni, Syeikh Allamah Abdullah Jawadi Amuli, Sayyid Allamah Kamâl al Haidari… pasti kalian akan melihat bagaiamana sebenarnya akidah Syi’ah Imamiyah Ja’fariyah.. dan bagaimana argumentasi naql dan aqli yang mereka paparkan untuk mendukung masing-masing poin akidah yang diyakini… dan akhirnya saya jamin setiap yang berakal pasti mengakui bahwa itulah akidah Islam yang murni, berbasis logika sehat dan nash shahih dan sharih serta jauh dari penyimpangan.

Dari pada bekerja siang malam memerangi agama Allah yang telah dijamin untuk dijaga, dibela dan dimenangkan oleh Allah lebih baik kalian mencari lowongan kerja lain yang lebih terhormat dan tidak mencelakakan dunia akhirat! Itu sekedar saran dari lubuk hati yang ikhlas buat para pedagang fitnah!

Wassalam

Abu Jafar

Check Also

Menjawab Tudingan Bahwa Imam Ali Pernah Sholat Dalam Keadaan Mabuk

Apakah Ali bin Abi Thalib Shalat Sambil Mabuk? Tulisan ini sekedar meluruskan ulah beberapa situs …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *