Home / Umum / Bagaimana cara mengantisipasi melemahnya iman dan keyakinan?

Bagaimana cara mengantisipasi melemahnya iman dan keyakinan?

Untuk meningkatkan iman dan keyakinan agama maka keyakinan ini harus dibangun dengan argumentasi di atas fondasi ilmu dam makrifat. Keyakinan tidak boleh disusupi oleh masalah-masalah supertitious dan khurafat. Di samping itu mampu menjawab seluruh pelbagai syubhat dan keraguan akidah yang mungkin saja ada.
Dalam tataran  praktik, iman dan keyakinan harus diamalkan dalam ibadah-ibadah syariat dan penyucian jiwa; karena perilaku mulia akan menguatkan iman sebagaimana perilaku buruk akan melemahkan iman.
Manusia secara fitrah adalah pencari kesempurnaan dan senantiasa berusaha bergerak dari kekurangan menuju kesempurnaan dan sampai kepada keparipurnaan dalam seluruh bidang. Meski boleh jadi dalam mengidentifikasi kesempurnaan-kesempurnaan manusia mengalami kesalahan dan menempuh jalan menyimpang. Namun inti pencari kesempurnaan merupakan masalah fitri manusia yang dianugerahkan Allah Swt dalam diri manusia.
Iman merupakan salah satu tipologi kesempurnaan manusia dan juga merupakan kesempurnaan terpenting yang memiliki tingkatan. Sudah sepantasnya setiap manusia yang beriman berusaha supaya setiap hari imannya kian bertambah dan semakin kuat.
Untuk menguatkan iman yang benar harus diusahakan dalam tiga bidang, kognisi, praktik dan afeksi.
  1. Dari sisi kognisi dan pengetahuan:
Seluruh fakih Syiah berkata bahwa taklid dalam ushuluddin tidak dibenarkan dan manusia sendiri harus menerima ushuluddin itu dengan pikiran dan penelitian. Kemudian setelah melalui pikiran dan penelitian ia akan memperoleh keyakinan. Karena itu, setiap orang Syiah harus mendasarkan keyakinan dan imannya pada argumentasi dan dalil. Menjadikan telaah dan riset dalam masalah-masalah agama khususnya masalah-masalah akidah sebagai agenda hariannya sehingga hari demi hari semakin dalam dan luas. Pengetahuan tentang Islam dan Syih harus diperkuat sehingga dapat membela keyakinan-keyakinannya dari pelbagai jenis khurafat yang dilontarkan oleh orang-orang tertentu yang mengatasnamakan agama lalu memperkenalkan Islam hakiki (Islam Muhammadi) yaitu mazhab Syiah Duabelas Imam (Itsna ‘Asyar) kepada orang lain. Apabila manusia meyakini sesuatu dengan dalil dan argumetasi maka dengan demikian imannya tidak akan rapuh dan mudah goyah dalam menghadapi pelbagai keraguan dan syubha sekecil apa pun itu. Seluruh anjuran dan instruksi Islam dan al-Quran kepada umatnya supaya menuntut ilmu dan berpikir adalah untuk tujuan membangun keyakinan dan akidah dengan landasan ilmu, dalil, pengetahuan dan argumentasi.
Setiap Syiah dengan menelaah keyakinan dan akidah Syiah maka ia akan mengetahui keungulan dan superioritas akidah ini atas akidah mazhab lainnya. Dengan memahami keunggulan ini maka ia akan menguatkan imannya.[1] Seorang Syiah harus tahu dari siapakah ia mempelajari agamanya dan siapa yang seharusnya dijadikan sebagai teladan dan pemimpin. Seorang Syiah bangga bahwa orang-orang yang dijadikan sebagai imam adalah orang-orang yang disucikan Allah Swt dari segala noda dan dosa. Mereka adalah para Imam yang diperkenalkan sebagai tambang ilmu dan pemilik pengetahuan.[2]
Demikian juga terkait ia harus sensitif dengan pelbagai syubhat dan keraguan yang boleh jadi muncul dalam benak lalu menyodorkan jawaban yang tepat dan memuaskan atas syubhat-syubhat tersebut mengingat bahwa syubhat laksana penyakit wabah yang bisa menular yang apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat maka akan mencelakakannya. Syubhat ini kalau segera tidak diatasi maka, di samping, akan menular kepada orang lain juga akan menjangkitinya sendiri. Keraguan-keraguan agama apabila tidak diatasi dengan benar dan logis, maka secara perlahan akan menggerogoti fondasi iman dan akidah secara personal dan sosial.
  1. Dari sisi praktik:
Penyucian jiwa yang disebut sebagai jihad akbar dalam literatur-literatur agama. Penyucian jiwa ini merupakan faktor terpenting dalam proses kesempurnaan dan penguatan iman.
Demikian juga, melaksanakan secara benar ibadah dengan memperhatikan adab-adab dan syarat-syaratnya akan sangat berpengaruh secara positif dalam keyakinan manusia dan semakin mengukuhkan keyakinan seseorang. Dalam pandangan al-Quran dan riwayat, amalan manusia sangat berpengaruh dalam menguatkan atau melemahkan keyakinan agama seseorang.
Al-Quran menyatakan:  “Dan sembahlah Tuhanmu sampai keyakinan (ajal) datang kepadamu.” (Qs. al-Hijr [13]:99)
Dari sisi lain, amalan buruk dan maksiat secara perlahan akan melemahkan iman seseorang dan bahkan menggiringnya untuk menjadi kafir. Al-Quran dalam hal ini menegaskan: “Kemudian pendustaan terhadap ayat-ayat Allah dan memperolok-olokkannya adalah akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan.” (Qs al-Rum [30]:10)
  1. Dari sisi afeksi:

Salah satu dimensi penting manusia adalah sisi afeksi yang sangat berpengaruh dalam keyakinan-keyakinan manusia sedemikian sehingga dalam sebagian hadis agama ditafsirkan sebagai cinta. Imam Shadiq As bersabda, “Agama itu tidak lain kecuali cinta.”[3] Kecintaan sejati manusia kepada Sang Kekasih akan menggiringnya untuk menaati-Nya dan segala yang diinginkan oleh Sang Kekasih akan ia lakukan sebaik mungkin. Karena itu, Imam Shadiq As dalam kelanjutan hadis yang disebutkan membacakan ayat ini,  “Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ali Imran [3]:31) Oleh itu, penguatan dimensi afeksi yang berpijak di atas pengenalan dan makrifat yang benar merupakan salah satu faktor dalam menguatkan keyakinan-keyakinan sebagai seorang Syiah.[4]

Akhir kata kiranya perlu diperhatikan bahwa orang-orang yang tidak beriman sama sekali tidak akan pernah sampai kepada ketenangan. Mereka hanya berpretensi dengan menampakkan bahwa mereka tenang. Bagaimana mungkin ia tenang sementara ia tidak mengenal kedudukannya di alam eksistensi dan masa depan yang menantikannya di hari kiamat? [iQuest] Untuk menguatkan keyakinan silahkan Anda merujuk pada beberapa buku berikut ini:

  1. Iman Semesta, Ayatullah Misbah Yazdi.
  2. Menjelajah Semesta Iman, Fakhri Maskoor.
  3. Inilah Akidah Syiah, Ayatullah Makarim Syirazi.
  4. Tafsir Al-Amtsal, Ayatullah Makarim Syirazi.
  5. Dan buku-buku lainnya.
Di samping buku-buku ini, kami persilahkan Anda untuk menelaah beberapa indeks berikut ini:
  1. Indeks: Penguatan Keyakinan Sebagai Seorang Syiah, Pertayanaan 2998 (Site: 3243).
  2. Indeks: Dalil-dalil Mengapa Menerima Islam, 1146 (Site: 1168).
  3. Indeks: Dalil-dalil Kebenaran Isla, Pertanyaan 275 (Site: 73).
  4. Indeks: Cara-cara Menguatkan Perasaan Mencari Tuhan, Pertanyaan 3472 (Site: 3695).

[1] Untuk telaah lebih jauh silahkan lihat, “Dalil-dalil Keunggulan Syiah” Pertanyaan No. 277 (Site: 2163) dan “Keunggulan Syiah atas Mazhab-mazhab Lain, Pertanyaan 1000 (Site: 1252)
[2] Imam Khomeini Rah dalam wasiatnya menulis: “Kami bangga bahwa imam-imam kami adalah para Imam Maksum yang dimulai dari Ali bin Abi Thalib As hingga Imam Mahdi Ajf (Sang Penyelamat) yang berkat kekuasaan Allah Swt Yang Mahakuasa, masih hidup dan mengawasi urusan-urusan (umatnya). Kami bangga bahwa Baqir al-‘Ulum itu adalah Imam kami yang merupakan orang yang paling unggul dalam sejarah dan tiada seorang pun yang dapat memahami kedudukannya selain Allah Swt, Rasulullah Saw dan para Imam Maksum As.” Imam Khomeini, Negaresy Maudhui bar Wasiat Name Siyasi Ilahi Imam Khomeini Rah, hal. 6, cetakan kedelapan, Muasssah Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khomeini Rah, Tehran, 1383 S.
[3] Syaikh Shaduq, al-Khishal, hal. 21, Jama’ah al-Mudarrisin fi al-Hauzah al-‘Ilmiyah, Qum, 1362 S.
[4] Diadapatasi dari indeks, Penguatan Akidah Sebagai Seorang Syiah, Pertanyaan 2998 (Site: 3243).
Sumber
www.islamquest.net

Check Also

Absolutisme Agama Yang Relatif

Banyaknya agama adalah sesuatu yang real dalam kehidupan manusia. Manusiapun menanggapi agama dengan cara yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *