Home / Umum / Absolutisme Agama Yang Relatif

Absolutisme Agama Yang Relatif

Banyaknya agama adalah sesuatu yang real dalam kehidupan manusia. Manusiapun menanggapi agama dengan cara yang bermacam-macam. Walaupun begitu bisa dipastikan bahwa semua manusia yang beragama menyadari sepenuhnya bahwa agama adalah pandangan hidup yang penting. Agama mengajarkan banyak hal kepada manusia sehingga manusiapun rela berkorban untuknya, bahkan ada yang rela mati demi agamanya. Keyakinan manusia terhadap agamanya jelas dilandasi oleh keyakinannya akan kebenaran agama itu sendiri. Dengan kata lain Agama dan kebenaran tidak bisa dipisahkan. Adalah hal yang tidak masuk akal jika ada manusia meyakini agama yang tidak benar menurutnya.

Apakah Semua Agama Benar?

Banyaknya agama dan pemeluknya telah menjadikan banyaknya sesuatu yang disebut benar. Memang adalah fakta bahwa setiap orang meyakini agamanya benar terlepas dari apa pendapatnya tentang agama lain. Sayangnya hal ini justru menyatakan semua agama benar dalam pandangan pemeluknya. Jadi pertanyaan di atas jawabannya Ya, semua agama benar dalam pandangan pemeluknya. Masalahnya selesai? Ooh tidak , kebenaran yang seperti ini adalah kebenaran yang dimanusiakan dan maafkan saya “kebenaran seperti ini tidak berarti sama sekali”.

Jawaban saya “Tidak semua agama benar”. Yang benar hanyalah agama dari Tuhan. Saya teringat kata-kata “Kebenaran Yang Mutlak dari Tuhan dan selain itu hanya kebenaran relatif”. Saya sependapat dengan kata-kata ini tetapi bukan dalam arti oleh karena kebenaran yang mutlak itu dari Tuhan maka setiap orang tidak bisa mencapainya atau oleh karena siapapun bukan Tuhan maka apa yang dia punya selalu relatif sifatnya.

Kebenaran mutlak adalah milik Tuhan dan manusia bisa mencapainya karena Tuhan menghendaki demikian. Tuhan yang memberi tahu manusia tentang kebenaran mutlak. Memang Tuhan tidak berbicara langsung dengan manusia, tetapi Tuhan berbicara pada manusia yang menjadi utusannya. Utusan Tuhan yang akan Menyampaikan kebenaran itu kepada segenap manusia. Kita mengenal konsep perutusan ini dengan istilah Kenabian. Tuhan menyampaikan kebenaran kepada utusannya dalam bahasa yang disebut wahyu, dan oleh karena utusan itu sendiri manusia yang suatu saat pasti mati maka wahyu ini akan disakralkan dalam bentuk Kitab suci. Jadi kita telah mengenal agama yang benar yaitu agama samawi yang berasal dari Tuhan yang mengandung konsep Kenabian dan memiliki Kitab suci. Ketuhanan bersifat mutlak dan begitu pula Kenabian dan Kitab suci bersifat mutlak karena keduanya mutlak berasal dari Tuhan. Ketuhanan, Kenabian dan Kitab suci adalah Hal yang mutlak dalam agama, dan saya menyebut ketiganya Absolutisme agama.

Setelah Utusan Tuhan tidak ada lagi maka yang mutlak hanyalah Kitab suci atau wahyu Tuhan. Untuk mencapai kebenaran yang mutlak tersebut maka manusia harus merujuk wahyu Tuhan karena wahyu Tuhan bersifat mutlak. Ketika manusia kembali kepada wahyu Tuhan dan memahaminya maka pada saat Inilah sesuatu yang mutlak telah menjadi relatif. Maksudnya interpretasi manusia terhadap wahyu Tuhan menjadi berbeda-beda tergantung pada manusianya. Apakah semua interpretasi tersebut semuanya benar sehingga manusia bebas memilihnya? Jawaban saya tidak, setiap interpretasi memiliki nilai yang berbeda.

Sesuatu yang relatif tidak dapat mencapai yang mutlak kecuali jika yang relatif itu didasari yang mutlak. Dalam hal ini Bagaimana? Lagi-lagi menurut saya, pemahaman manusia terhadap wahyu Tuhan adalah relatif, dan wahyu Tuhan adalah mutlak. Agar pemahaman manusia tersebut mencapai wahyu Tuhan maka pemahaman yang relatif itu harus didasari oleh metode terbaik yang bisa dilakukan. Pemahaman yang didasari metode terbaik yang bisa dilakukan adalah hal yang mutlak dilakukan manusia untuk memahami wahyu Tuhan. Mungkin ada yang berkata metode itu juga relatif sifatnya, saya jawab ya tetapi yang mutlak adalah anda harus memahami dengan metode terbaik yang bisa dilakukan apapun bentuknya. Yang jelas Tuhan telah menganugerahkan Akal kepada manusia yang akan menuntunnya pada metode terbaik yang bisa dilakukan. Jadi bisa ditambahkan adalah mutlak manusia berusaha semampunya dengan akal yang ia punya untuk mencapai metode terbaik yang bisa dilakukan.

Kesimpulannya yang menjadi absolutisme agama adalah

  • Ketuhanan
  • Kenabian
  • Wahyu Tuhan atau Kitab suci
  • Interpretasi Wahyu Tuhan dengan metode terbaik yang bisa dilakukan
  • Manusia berusaha semampunya mencapai metode terbaik yang bisa dilakukan
    Dan hasil dari absolutisme agama ini bisa bermacam-macam karena terdapat unsur yang relatif di dalamnya yaitu
  • Interpretasi manusia terhadap wahyu Tuhan

Sayangnya ada sekelompok orang yang tidak mengerti masalah ini, mereka berusaha mengabsolutkan sesuatu yang relatif. Mereka meyakini bahwa mereka yang paling benar dan menyerang setiap keyakinan orang lain yang berbeda dengan mereka. Keyakinan bahwa mereka yang paling benar adalah sah-sah saja karena itu absolutisme agama mereka. Tetapi menyerang orang lain jelas tidak benar, ini yang saya maksud mengabsolutkan yang relatif dan ini melanggar hukum relativitas manusia. Setiap manusia yang beragama memiliki keyakinan yang sangat ia hargai melebihi apapun, dan ketika keyakinan ini diserang akan terasa menyakitkan bagi dirinya. Jadi ketika mereka menyerang orang lain yang menurut mereka menegakkan kebenaran sebenarnya mereka menyakiti hati orang lain.

Kesalahan mereka adalah mereka tidak menyadari teritori orang lain, teritori yang sepenuhnya milik orang lain dimana orang lain berhak merasa tenang dan nyaman. Mereka tidak memandang sesuatu yang relatif yaitu bahwa orang lain memiliki interpretasi dan metode yang berbeda. Mereka tidak memandang sesuatu yang relatif yaitu bahwa orang lain sudah semampunya berusaha. Yang mereka lihat hanyalah yang absolut yaitu orang lain salah karena berbeda dengan mereka dan harus mereka serang. Tindakan seperti ini adalah bunuh diri sosial yang akan membuat mereka terasingkan dalam kehidupan sosial keyakinan manusia. Dan tidak berlebihan jika cukup banyak orang lain yang akan menyerang balik mereka. Saya harap suatu saat mereka akan menyadari hal ini dan berusaha menghargai relativitas manusia. Kita harus menghargai manusia yang memiliki bermacam-macam keyakinan walaupun anda mungkin tidak menghargai keyakinan bermacam-macam yang dimiliki manusia. (spw.com)

 

Check Also

Tutup Mukamu, wahai Abu Dzar

Nabi saw bertanya lagi: Ya Abu Dzar, bagaimana pendapatmu jika kematian menjadi wabah yang menyerang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *