Home / Tabayun / Meninjau Kembali Gelar Ash-Shiddiq (untuk sahabat siapakah?)

Meninjau Kembali Gelar Ash-Shiddiq (untuk sahabat siapakah?)

Kita sering atau kadang mendengar saat ceramah agama khususnya momen isra’ mi’raj bahwa Abu Bakar diberikan gelar Ash-Shiddiq. Ada yang menyebut (konon katanya) Nabi Muhammad Saw yang memberikan gelar tersebut. Mengapa? Karena ia membenarkan Nabi Muhammad Saw terkait peristiwa isra’ mi’raj di hadapan kaum Quraisy. Cerita inilah yang mashyur di tengah masyarakat Muslim.

Karena ini menyangkut sejarah dan menisbahkan kepada Nabi Saw, maka tentu kita harus meninjau sumber dan validitas cerita itu. Bukankah berdusta atas nama Nabi Saw memiliki konsekuensi yang sangat berat? Tulisan ini akan membahas tentang gelar Ash-Shiddiq terkait peristiwa isra’ mi’raj. Pisau analisis yang dipakai adalah ilmu hadits dan kitab-kitab rijal.

1. Riwayat ‘Aisyah

Dalam kitab Al-Mustadrak ‘ala Al-Shahihain, karya Al-Hakim, jilid 3, halaman 81, riwayat no. 4458 berikut:

حدثنا أبو عمرو عثمان بن أحمد بن السماك الزاهد ببغداد ثنا إبراهيم بن الهيثم البلوي ثنا محمد بن كثير الصنعاني ثنا معمر عن الزهري عن عروة عن عائشة رضى الله تعالى عنها قالت لما أسري بالنبي صلى الله عليه وسلم إلى المسجد الأقصى أصبح يتحدث الناس بذلك فارتد ناس ممن كان آمنوا به وصدقوه وسعى رجال من المشركين إلى أبي بكر رضى الله تعالى عنه فقالوا هل لك إلى صاحبك يزعم أنه أسري به الليلة إلى بيت المقدس قال أو قال ذلك قالوا نعم قال لئن قال ذلك لقد صدق قالوا أو تصدقه أنه ذهب الليلة إلى بيت المقدس وجاء قبل أن يصبح فقال نعم إني لأصدقه ما هو أبعد من ذلك أصدقه في خبر السماء في غدوة أو روحة فلذلك سمي أبا بكر الصديق رضى الله تعالى عنه

Lalu Al-Hakim berkomentar:

هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه فإن محمد بن كثير الصنعاني صدوق

Hadits ini shahih dengan syarat Syaikhain dan mereka tidak mengeluarkannya (meriwayatkannya), Muhammad bin Katsir Ash-Shan’ani seorang yang shaduq.
______________

Kritik Terhadap Penilaian Al-Hakim

Riwayat ‘Aisyah di atas sanadnya tidak shahih karena ada perawi bernama Muhammad bin Katsir Al-Shan’ani yang meriwayatkan dari Ma’mar. Penilaian terhadapnya dalam kitab Tahdzib Al-Tahdzib, jilid 6, halaman 21-22, biografi no. 7388 sebagai berikut:

Bukhari berkata, “Ahmad mendha’ifkannya”. ‘Abdullah bin Ahmad menyebutkan bahwa ayahnya sangat mendha’ifkan Muhammad bin Katsir dan sangat melemahkan hadits-haditsnya. Lalu ia berkata, “Mungkar al-hadits”. Shalih bin Ahmad berkata dari ayahnya, “Bukan orang yang tsiqah”. Hatim bin Laits berkata dari Ahmad, “Ia tidak ada apa-apanya meriwayatkan hadits-hadits mungkar yang tidak ada asalnya”. Abu Hatim menyatakan ia orang shalih tetapi sebagian hadits-haditsnya terdapat kemungkaran. Shalih bin Muhammad berkata, “Shaduq tapi banyak melakukan kesalahan”. Ibn Sa’ad walaupun menyatakan ia tsiqah tetapi disebutkan bahwa ia mengalami ikhtilath di akhir umurnya. Bukhari berkata, “Sangat lemah”. Ibn ‘Adi berkata, “Ia memiliki hadits-hadits yang tidak diikuti seorangpun”. Ibn Hibban memasukkannya dalam kitab Al-Tsiqat dan berkata, “Melakukan kesalahan dan memiliki riwayat gharib”. An-Nasa’i berkata, “Tidak kuat dan banyak melakukan kesalahan”. As-Saji berkata, “Shaduq, banyak melakukan kesalahan”. Abu Ahmad Al-Hakim berkata, “Tidak kuat menurut mereka.”

Ibn Hajar Al-‘Asqalani dalam kitab Taqrib Al-Tahdzib menyatakan ia shaduq dan banyak melakukan kesalahan, tapi kemudian dikoreksi dalam kitab Tahrir Taqrib Al-Tahdzib, jilid 3, halaman 311, bahwa ia seorang yang dha’if, dijadikan i’tibar dalam mutaba’ah dan syawahid. Adz-Dzahabi memasukkan Muhammad bin Katsir dalam kitab Al-Mughni fi Al-Dhu’afa’, jilid 2, halaman 257, biografi no. 5926 (tahqiq: Nuruddin ‘Itr). Ibn Al-Jauzi memasukkanya dalam kitab Al-Dhu’afa’ wa Al-Matrukin, jilid 3, halaman 94, biografi no. 3168, lalu menyatakan Ahmad sangat mendha’ifkannya dan berkata, “munkar al-hadits”. Al-‘Uqaili memasukannya dalam kitab Al-Dhu’afa’, jilid 4, halaman 128-129, biografi no. 1687 (tahqiq: ‘Abdul Mu’thi Amin Qal’aji), lalu menyatakan bahwa haditsnya sangat lemah dari Ma’mar, meriwayatkan hadits-hadits mungkar dari Ma’mar, dan tidak diikuti darinya sesuatu pun.

Kesimpulan riwayat pertama: Muhammad bin Katsir statusnya dha’if dan banyak melakukan kesalahan. Oleh karena itu, penilaian Al-Hakim adalah keliru. Pernyataan Al-Hakim bahwa hadits itu shahih sesuai syarat Syaikhain juga keliru karena ternyata Muhammad bin Katsir bukanlah perawi Syaikhain.
______________

2. Riwayat Abu Salamah

Dalam kitab Dala’il Al-Nubuwwah, karya Al-Baihaqi, jilid 2, halaman 360, bagian matan yang menyebut gelar Ash-Shiddiq berikut:

قال ابن شهاب قال أبو سلمة بن عبد الرحمن فتجهز ناس من قريش إلى أبي بكر فقالوا له هل لك في صاحبك يزعم أنه قد جاء بيت المقدس ثم رجع إلى مكة في ليلة واحدة فقال أبو بكر أو قال ذلك قالوا نعم قال فأشهد لئن كان قال ذلك لقد صدق قالوا فتصدقه بأن يأتي الشام في ليلة واحدة ثم يرجع إلى مكة قبل أن يصبح قال نعم إني أصدقه بأبعد من ذلك أصدقه بخبر السماء قال أبو سلمة فبها سمي أبو بكر الصديق رضي الله عنه

Jika memperhatikan matan riwayat di atas, maka dapat diketahui bahwa pemberian gelar Ash-Shiddiq kepada Abu Bakar terkait peristiwa isra’ mi’raj adalah pendapat Abu Salamah, bukan sabda Nabi Saw. Selain itu, status Abu Salamah bukan sebagai sahabat melainkan seorang tabi’in sebagaimana disebutkan dalam kitab Siyar A’lam Al-Nubala’, jilid 4, halaman 287, biografi no. 108. Jadi ia tidak menyaksikan peristiwa tersebut dan juga tidak disebutkan dari siapa ia meriwayatkan mengenai gelar Ash-Shiddiq.
______________

3. Riwayat Ummu Hani’

Dalam kitab Mu’jam Al-Kabir, karya Ath-Thabrani, jilid 1, halaman 55, riwayat no. 15 berikut:

حدثنا بهلول بن إسحاق بن بهلول الأنباري ثنا أبي عن عبد الأعلى بن أبي المساور عن عكرمة قال خبرتني أم هانئ قالت قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لما أسري به ( إني أريد أن أخرج إلى قريش فأخبرهم ) فأخبرهم فكذبوه وصدقه أبو بكر فسمي يومئذ الصديق

Riwayat tersebut dha’if jiddan karena perawi bernama ‘Abdul A’la bin Abi Musawir. Penilaian terhadapnya dalam kitab Tahdzib Al-Tahdzib, jilid 3, halaman 725, biografi no. 4354, diantaranya sebagai berikut:

Muhammad bin ‘Utsman bin Abi Syaibah dari ‘Ali bin Al-Madini berkata, “Dha’if, tidak ada apa-apanya”. Ibn ‘Ammar Al-Maushuli berkata, “Dha’if, bukan hujjah”. Abu Zur’ah berkata, “Dha’if jiddan”. Abu Hatim menyatakan ia dha’if al-hadits dan matruk. Bukhari berkata, “Munkar al-hadits”. Abu Dawud berkata, “Tidak ada apa-apanya”. Ibn Numair berkata, “Matruk al-hadits”. Ad-Daraquthni menilainya dha’if. Al-Hakim Abu Ahmad berkata, “Tidak kuat menurut mereka”. As-Saji berkata, “Munkar Al-Hadits”. Abu Nu’aim Al-Ashbahani berkata, “Dha’if jiddan, tidak ada apa-apanya.”

An-Nasa’i dalam kitab Al-Dhu’afa’ wa Al-Matrukin, halaman 165, biografi no. 401, menyatakan ‘Abdul A’la bin Abi Musawir sebagai matruk al-hadits. Bukan hanya An-Nasa’i, tapi juga Ad-Daraquthni memasukkannya dalam kitab Al-Dhu’afa’ wa Al-Matrukun, halaman 280, biografi no. 347.
______________

Kesimpulan Pembahasan

Berdasarkan tinjauan ilmu hadits dan kitab-kitab rijal, maka tidak ada satupun dalil yang shahih atau tsabit bahwa Nabi Saw memberikan gelar Ash-Shiddiq kepada Abu Bakar terkait peristiwa isra’ mi’raj. Cerita tentang itu didasari riwayat yang dha’if dan mursal; tidak bisa dijadikan hujjah.

Saran

Sayangnya sudah terlanjur dinisbahkan pada Nabi Saw dan masyhur di kalangan masyarakat Muslim. Oleh karena itu, tugas kita yang telah mengetahui memberi tahu saudara-saudara kita yang belum mengetahui. Tentu dengan cara baik dan hikmah. Insya Allah berkah dan bermanfaat. (sholawat14)

 

Referensi

📘Al-Imam Al-Hafizh Abi ‘Abd Allah Muhammad bin ‘Abdullah Al-Hakim Al-Naisaburi, Al-Mustadrak ‘Ala Al-Shahihain, tahqiq: Mushtafa ‘Abd Al-Qadir ‘Atha, cet. 2, jilid 3 (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1422 H/2002 M), riwayat no. 4458, hlm. 81.

📘Al-Hafizh Abi Al-Fadhl Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Syihab Al-Din Al-‘Asqalani Al-Syafi’i, Tahdzib Al-Tahdzib, tahqiq: ‘Adil Ahmad ‘Abd Al-Maujud dan ‘Ali Muhammad Mu’awwad, jilid 6 (KSA: Wazarah Al-Syu’un Al-Islamiyyah, t.th.), biografi no. 7388, hlm. 21-22.

📘Basyar ‘Awad Ma’ruf dan Syu’aib Al-Arnauth, Tahrir Taqrib Al-Tahdzib, cet. 1, jilid 3 (Beirut: Mu’assasah Al-Risalah, 1417 H/1997 M), biografi no. 6251, hlm. 311.

📘Al-Imam Al-Hafizh Syams Al-Din Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Al-Dzahabi, Al-Mughni fi Al-Dhu’afa’, tahqiq: Nuruddin ‘Itr, jilid 2 (Qatar: Idarah Ihya’ Al-Turats Al-Islami, t.th.), biografi no. 5926, hlm. 257.

📘Jamal Al-Din Abi Al-Faraj ‘Abd Al-Rahman bin ‘Ali bin Muhammad Ibn Al-Jauzi, Al-Dhu’afa’ wa Al-Matrukin, tahqiq: Abu Al-Fida’ ‘Abd Allah Al-Qadhi, cet. 1, jilid 3 (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1406 H/1986 M), biografi no. 3168, hlm. 94.

📘Abi Ja’far Muhammad bin ‘Amru bin Musa bin Hammad bin Al-‘Uqaili Al-Makki, Al-Dhu’afa’ Al-Kabir, tahqiq: ‘Abd Al-Mu’thi Amin Qal’aji, cet. 1, jilid 4 (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1404 H/1984 M), biografi no. 1687, hlm. 128-129.

📘Abi Bakr Ahmad bin Al-Husain Al-Baihaqi, Dala’il Al-Nubuwwah, tahqiq: ‘Abd Al-Mu’thi Qal’aji, cet. 1, jilid 2 (Kairo: Dar Al-Rayyan lil Turats, 1408 H/1988 M), hlm. 360.

📘Al-Imam Syams Al-Din Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Al-Dzahabi, Siyar A’lam Al-Nubala’, tahqiq: Syu’aib Al-Arnauth, cet. 2, jilid 4 (Beirut: Mu’assasah Al-Risalah, 1402 H/1982 M), biografi no. 108, hlm. 287.

📘Al-Hafizh Abi Al-Qasim Sulaiman bin Ahmad Al-Thabrani, Mu’jam Al-Kabir, tahqiq: Hamdi ‘Abd Al-Majid Al-Salafi, jilid 1 (Kairo: Maktabah Ibn Taimiyyah, t.th.), riwayat no. 15, hlm. 55.

📘Al-Hafizh Abi Al-Fadhl Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Syihab Al-Din Al-‘Asqalani Al-Syafi’i, Tahdzib Al-Tahdzib, tahqiq: ‘Adil Ahmad ‘Abd Al-Maujud dan ‘Ali Muhammad Mu’awwad, jilid 3 (KSA: Wazarah Al-Syu’un Al-Islamiyyah, t.th.), biografi no. 4354, hlm. 725 .

📘Abi ‘Abd Al-Rahman Ahmad bin Syu’aib Al-Nasa’i, Al-Dhu’afa’ wa Al-Matrukin, tahqiq: Buran Al-Dannawi dan Kamal Yusuf Al-Hut, cet. 1 (Beirut: Mu’assasah Al-Kutub Al-Tsaqafiyyah, 1405 H/1985 M), biografi no. 401, hlm. 165.

📘Abi Al-Hasan ‘Ali bin ‘Umar Al-Daraquthni Al-Baghdadi, Al-Dhu’afa’ wa Al-Matrukun, tahqiq: Muwaffaq bin ‘Abd Allah bin ‘Abd Al-Qadir, cet. 1 (Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif, 1404 H/1984 M), biografi no. 347, hlm. 280.

Check Also

Analisis Hadits Tanduk Setan, Najd atau Irak?

Hadis Tanduk Setan : Kontroversi Najd dan Iraq? Hadis tanduk setan menjadi polemik yang berkepanjangan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *