Home / Taqrib / Teroris Identik Dengan Keyakinan Khawarij Yang Menafsirkan Ayat Secara Literal

Teroris Identik Dengan Keyakinan Khawarij Yang Menafsirkan Ayat Secara Literal

Menurut ungkapan Imam Ali as, kaum Khawarij tidak merasa menyembunyikan untuk berbuat jahat. Hanya saja, pemahaman mereka salah dan menyimpang dalam menafsirkan sesuatu dan mereka sangat kaku dan jumud. Karena itu tentang mereka Imam Ali berwasiat, “Janganlah kalian membunuh kaum khawarij sepeninggalku . Sebab, berbeda antara orang yang mencari kebenaran dan terjerumus dalam kesalahan dengan orang yang mencari kebatilan dan mendapatkannya” (Nahjul Balaghah khotbah 60). Dalam khotbah ini Imam Ali as membandingkan kaum khawarij dengan Muawiyah dan para pengikutnya. “Aku telah mencabut akar fitnah, karena tidak ada orang lain – kecuali diriku – berani melakukan itu.
(Nahjul balaghah khutbah 91).

Alasan Imam Ali as menghentikan orang yg memerangi kaum Khariji (Khawarij) adalah, bahwa beliau as jelas-jelas melihatnya bahwa sesudahnya (usai perang Nahrawan) wewenang dan kekuasaan akan jatuh ke tangan orang-orang yang tidak tahu akan makna jihad yg sesungguhnya, dan yang akan menggunakan pedang hanya untuk memelihara kekuasaannya.
Dan ada orang yang bahkan melebihi kaum Khariji dalam mencerca dan melaknat Imam Ali as. Maka orang-orang zalim tidak berhak memerangi orang yang salah. Lagi pula, orang-orang yang dengan sengaja menempuh jalan batil tidak dapat diizinkan memerangi orang-orang yang salah kerena kekeliruan.

Jadi khotbah Imam Ali as di atas menjelaskan kenyataan bahwa kesesatan kaum Khariji tidak disengaja melainkan karena pengaruh Iblis. Mereka keliru menganggap (MENGKLAIM) salah sebagai benar lalu bersikeras kepadanya. Pada sisi lain, posisi kesesatan Muawiyah dan kalangannya yang lain, mereka menolak kebenaran dengan menyadari bahwa itu sebenarnya memang benar, dan menyukai kebatilan sebagai tata prilaku mereka dengan mengetahui sepenuhnya bahwa itu memang sebenarnya batil.

Sedangkan penafsiran dari khotbah 91 Imam Ali as di atas telah dijabarkan oleh Ayatullah Muthahhari dibawah ini:
Menurut Ayatullah Muthahhari, “Jika hendak bersyukur kepada Allah atas suatu hal, maka hendaknya kita bersyukur bahwa Allah tidak menjadikan kita hidup di masa Imam Ali as. Sekiranya kita hidup masa itu, belum tentu kita punya iman dan aqidah setinggi itu. Misalnya jika kita hidup masa Imam Ali as mungkin kita mampu berperang di pihak Imam Ali as dalam Perang Jamal dan Perang Shiffin. Akan tetapi janganlah kita percaya bahwa kita akan mampu dan punya keberanian untuk ikut serta bersama Imam Ali as dalam Perang Nahrawan melawan kaum khawarij . Sebab, dalam perang ini, Imam Ali as memerangi orang-orang yang senantiasa melakukan sholat di tengah malam dan mengerjakan ibadah di siang hari. Pada dahi mereka ada tanda hitam karena banyak melakukan sujud.
Siapa berani melawan orang-orang seperti mereka? hanya Imam Ali as yang mampu melakukan itu karena beliau tidak melihat sesuatu yang tampak. Namun, Imam Ali as menyatakan bahwa mereka bukanlah orang-orang yg suka berdusta dan bersikap riya’. Mereka bukan orang-orang munafik. Sekiranya kaum khawarij adalah orang-orang yg suka berdusta dan bersikap riya’ maka urusannya akan lebih mudah bagi beliau. Mereka adalah suatu kaum yang mendirikan shalat di tengah malam dan mengerjakan puasa di siang hari . Namun keberadaan mereka menimbulkan bahaya sangat besar bagi Islam”.

WAHABI MENAFSIRKAN AYAT SECARA LITTERAL

Dalam Tafsirnya, Ibnu katsir menolak makna dhahir yang dipahami kaum wahabi, salah satu kegagalan mereka (kaum wahabi) memahami makna ayat karena menafsirkan secara litteral. (lihat surat al -a’raf ayat 54, jilid 2 halaman 295)

{kemudian beristawa kepada arsy} maka manusia pada bagian ini banyak sekali perbedaan pendapat , tidak ada yang memerincikan makna (membuka/menjelaskannya) (lafadz istiwa) dan sesungguhnya kami menempuh dalam bagian ini seperti apa yang dilakukan salafushalih, imam malik, imam auza’I dan imam atsuri, allaits bin sa’ad dan syafi’I dan ahmad dan ishaq bin rawahaih dan selainnya dan ulama-ulama islam masa lalu dan masa sekarang. Dan lafadz (istawa) tidak ada yang memerincikan maknanya seperti yang datang tanpa takyif (memerincikan bagaimananya) dan tanpa tasybih (penyerupaan dgn makhluq) dan tanpa ta’thil(menafikan) dan (memaknai lafadz istiwa dengan) makna dhahir yang difahami (menjerumuskan) kepada pemahaman golongan musyabih yang menafikan dari (sifat Allah) yaitu Allah tidak serupa dengan makhluqnya…”

Lihatlah Ibnu Katsir (Mufassir Sunni) melarang memaknai ayat mutasyabihat dengan makna dhohir karena itu adalah pemahaman mujasimmah musyabihah! yang kaum wahabi pahami bahwa Allah SWT bersemayam di arsy (seperti makhluk) na’uzubillahi min dzalik!

Begitulah bahayanya ketika kita memaknai/menafsirkan ayat secara litteral, bukan rahmat yang kita dapatkan tapi sebaliknya musibah. Lihatlah fenomena saat ini, kaum wahabi dengan entengnya mengeluarkan kata-kata sesat, bid’ah, kafir, zindiq, dll kepada sesama muslim yang tidak sepemahaman dengan mereka. Tak luput pula tuduhan kafirpun dialamatkan kepada Ayah, ibu, dan paman rasulullah saww yang nota bene keluarga nabinya sendiri yang merupakan nasab dari sulbi terbaik pilihan Allah SWT.

Menafsirkan ayat secara litteral sehingga dengan mudahnya menuduh firqoh lain yang tidak sepemahaman dengan mereka (kaum wahabi) dengan tuduhan sesat, bid’ah, kafir, zindiq, dll, (merasa paling benar sendiri) merupakan cikal bakal pemahaman radikal yang mampu mendogma sebagian kaum muslim awam yang punya ghiroh dalam agama sehingga salah dalam memahami islam hakiki yang esensial (kaffah). Karena kaum awam ini yang mudah mereka dogmatis dengan doktrin-doktrin mereka.

Mari kita berlindung pada Allah dari kefakiran ilmi dan selalu memperbanyak shalawat! Shallu ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad wa ‘ajjil farajahum. (sholawat14)

Check Also

Amalan Penduduk Madinah Yang Jarang Diketahui 

Mazhab Maliki salah satu dari empat mazhab fiqih Sunni yang populer. Mazhab ini diasaskan oleh …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *