Home / Buku / Beberapa Wasiat Penting Imam Hasan Askari as

Beberapa Wasiat Penting Imam Hasan Askari as

Imam Hasan Askari as adalah imam Ahlulbait as yang ke-11, sekaligus ayah dari Imam Al-Mahdi as yang mengalami ghaibah (kegaiban) dari umatnya dalam jangka waktu tertentu. Karena itu, kandungan wasiat beliau merupakan metode umum bagi Syiahnya yang harus menjadi rujukan dan petunjuk bagi mereka, terutama pada masa kegaiban itu.

Barangkali, kita bisa mengambil 3 hal pokok dari wasiat tersebut.

Buku ” Berjalan di Bawah Cahaya Ahlulbait as”
  1. Komitmen terhadap prinsip dan norma

Menjadi Syiah bukan hanya memiliki komtimen dalam hati, karena harus diikuti pula dengan komitmen dalam perbuatan-perbuatan normatif yang sesuai. Artinya, siapa pun yang menisbatkan dirinya kepda jalan Ahlulbait as, ia harus berpegang pada prinsip-prinsip dan norma-normanya, bukan hanya sebuah ikatan emosional yang menampakkan kecintaan dan kesetiaan.

Dalam banyak riwayat dan nash, telah ditekankan bahwa semua itu tidak menjadi bukti atas pengakuan, karena sekadar cinta dan ikatan emosional tidak akan bermanfaat selama tidak diikuti dengan keterikatan pada nilai-nilai yang prinsip. Karena itu, hal pertama yang disampaikan Imam dalam wasiatnya adalah komitmen terhadap perbuatan yang berdasarkan nilai-nilai yang agung. Imam berkata  “Aku wasiatkan agar kalian selalu bertakwa kepada Allah SWT, bersikap wara’ dalam agama, bersungguh-sungguh di jalan Allah SWT, berkata jujur, dan menyampaikan amanat kepada pemberi amanat…”

  1. Berbaur bersama masyarakat

Kekuasaan Umayyah, Abassiyah, dan penguasa-penguasa lain yang melakukan kezaliman terhadap Ahlulbait as selalu berusaha mengisolasi mereka serta menjauhkan mereka dari para pengikut, pecinta atau masyarakat secara umum, sehingga tidak tercipta interaksi dengan masyarakat dan tidak mampu memberikan pengaruh.

Karena itu Imam berwasiat kepada Syiahnya agar tidka menyendiri dari pergaulan masyarakat, bahkan diperintahkan untuk bergaul dengan masyarakat muslim secara umum. Sebagian orang menganggap bahwa meleburnya kita bersama kelompok lain akan mengorbankan prinsip-prinsip dasar. Padahal dalam kenyataanya, seorang mukmin sejati  yang penuh dengan kesadaran dan pengetahuna tidak akan takut dalam melebur bersama masyarakat karena hal itu akan memberikan kesempatan untuk ikut mewarnai kehidupan.

Itulah sebabnya para imam Ahlulbait as selalu menganjurkan para Syiahnya untuk membaur dengan masyarakat di daerah masing-masing, dan tidak menjadi kelompok eksklusif yang hidup dengan mengisolasi diri, karena beberapa alasan berikut.

  1. Komunitas yang menyendiri dan menjauh dari pergaulan masyarakat akan rentan dan mudah menjadi sasaran tuduhan dan fitnah dari masyarakat. Lain halnya jika komunitas tersebut melebur di dalamnya karena masyarakat akan melihat komunitas itu sebagai bagian dari mereka dan tidak akan mudah terhasut oleh berbagai provokasi.
  2. Sesungguhnya mengasingkan diri akan menciptakan suasana permusuhan terhadap pihak lain. Suasana itu tidak akan tercipta jika semua orang melebur satu sama lain dalam hubungan penuh kasih sayang dan kebaikan dalam sebuah masyarakat ideal.
  3. Mengasingkan diri juga akan menghalangi sampainya pemikiran kita kepada orang lain. Saat itu pemikiran, pendapat atau keyakinan komunitas menyendiri itu akan menjadi kabur dan tidak akan dipahami oleh masyarakat. Sebaliknya, ketika bersedia membaur dengan masyarakat dengan berbagai macam perbedaan maka pemikiran komunitas akan dikenal sebagai salah satu pendapat masyarakat.

Karenanya kami menekankan, terutama pada masa kini di mana perubahan terjadi sedemikian rupa sehingga manusia semakin percaya diri dan merasa cukup dengan kehidupannya, akan pentingnya masalah pembauran dan keterbukaan dalam berpikir. Kitapun sudah melihat hasil-hasil positif dari hal itu di mana sekelompok mukmin pengikut Ahlulbait as melebur bersama masyarakat lain. Mereka mampu meberikan gambaran yang cemerang tentang mazhab Ahlulbait as dan pengikutnya. Gambaran itu akan meninggalkan kesan yang baik di mata pihak lain. Hal ini akan memberikan manfaat bagi masyarakat mukmin dan memberikan kontribusi bagi perkembangan risalah yang kita yakini.

Pembauran ini merupakan tntutan, khususnya dalam skala nasional, baik bentuk yayasan-yayasan maupun lembaga masyarakat. Oleh sebab itu, kondisi sosial negatif yang terjadi pada sekelompok pelajar agama yang berkesempatan belajar di universitas, di mana kita saksikan mereka menyendiri dengan kelompok mereka saja, seakan-akan tidak ada hubungan antara mereka dengan mahasiswa lain. Kondisi ini tentu saja bukan kondisi yang baik mengingat kita tidak merasa takut untuk menunjukkan apa yang kita miliki hingga kita harus mengasingkan diri. Apalagi jika kita melihat berbagai perkembangan zaman yang bersifat positif sehingga kita bisa mengenal pihak lain dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengenal lebih  jauh.

Kita juga telah menyaksikan berbagai manfaat dari sikap terbuka satu kelompok dalam berinteraksi dengan kelompok lain, di antaranya adalah mengajak pihak lain untuk mnegenal prinsip dan mazhab, dan saling bertukar informasi dengan cara yang lebih baik. Karena dalam kondisi ini, saat mereka saling bertemu, maka akan terjadi perbandingan keyakinan sehingga masing-masing pasti akan mendapatkan tantangan untuk memberikan jawaban yang akan mendorong mereka untuk lebih banyak membaca dan melakukan penelitian. Ini juga merupakan buah yang positif.

Sesungguhnya sikap terbuka terhadap pihak lain merupakan bibit bagi kesadaran akan prinsip dan saran untuk megenal masyarakat ini, serta menyampaikan ide dan buah pikiran kepada mereka. Dan merupakan sebuah kesalahan besar jikapara pemuda kita di berbagai universitas dan para aktivis di berbagai daerah hanya memikirkan diri  mereka sendiri.

Dalam wasiat ini, Imam menganjurkan interaksi dengan melebur bersama pihak lain “Shalatlah bersama masyarakat, bersaksilah atas jenazah mereka, jenguklah yang sakit di antara mereka, dan penuhilah hak – hak mereka. Sesungguhnya, jika seseorang dari kalian mampu berlaku wara’ dalam agama, jujur dalam ucapan, teguh memegang amanat, dan baik akhlaknya, kemudian masyarakat mengatakan ‘Itulah Syiah’ maka hal itu akan mebahagiakanku.”

Ini berarti Imam ingin membiasakan para pengikutnya untuk berpegang teguh pada nilai-nilai dan langkah-langkah yang baik ketika berada dalam sbuah maysarakat.

  1. Kesan yang baik

Sepanjang perjalanan sejarah, sering kita saksikan orang yang berusaha memalsukan dan memberikan gambaran yang salah tentang pengikut Ahlulbait as untuk tujua politis, kebodohan, atau keputusan yang keliru. Maka, tugas kitalah untuk memperbaiki gambaran seperti itu sehingga masyarakat mendapatkan gambaran yang baik, ituah tanggung jawab kita.

Dalam hal ini, Imam berkata “ Bertakwalah keada Allah SWT dan jadilah sebagai hiasan kami dan jangan mencoreng muka kami…”

Saat sebagian orang dalam masyarakat kita mendengar sebuah hadis tentang pentingnya berinteraksi dengan orang lain dalam hal mahab dan social, mereka memiliki pemahaman yang salah tentang hal itu. Mereka mengatakan, entah karena kebodohan atau kedunguan, “Kita tidak peduli dengan apa yang orang katakana tentang kita.” Bahkan, mereka mengutip firman Allah SWT, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka”

Ini adalah kesalahan fatal karena tidak benar jika kita menganggap bahwa kesan baik dihadapan pihak lain tidak penting. Sebagai seorang pribadi muslim, seyogyanya berusaha memberikan kesan yang baik, demikian pula dalam masyarakat yang harus menampilkan kesan sebagai anggota masyarakat yang baik dan gemilang.

Adapun ayat yang mengatakan, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kmau megikuti agama mereka….” Menjelaskan kepada kita bhawa setiap manusia harus berpegang teguh kepada prinsip agamanya dan tidak ada tawar-menawar dalam hal ini jika hal itu harus mengirbankan nilai-nilai prinsip. Dengan kata lian, kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan berhenti mengintimidasi hingga kalian keluar dari agama kalian. Tidak ada pertentangan dalam makna ini.

Namun, jika permasalahan tidak berhubungan dengan pokok dan prinsip mazhab maka hukumnya boleh atau serupa anjuran. Jika kita tidak melakukannya maka kita akan mengalami kerugian besar mengingat masyarakat akan menangkap kesan yang tidak baik dari  diri kita. Karena itu, setiap orang berakal harus memilih mana yang lebih baik sementara kecenderungan logis menuntut pemeliharaan kesan yang baik.

Saat sebagian kalangan muslim radikal diminta untuk tidak melakukan sebuah tindakan yang akan dimanfaatkan oleh pihak Barat yang non-muslim untuk menjatuhkan kaum muslim, mereka membawa ayat-ayat  serupa ayat di atas tadi. Ini merupakan sikap yag salah dan jauh dari nilai kesadaran.

Perintah ini ditujukan khusus bagi pengikut Ahlulbait as yang harus lebih mementingkan terciptanya kesan baik seagai mazhab dan masyarakat di hadapan opini Islam dalam skala dunia.

Barang siapa mementingkan masalah ini, ia adalah seorang yang memprioritaskan  maslahat mazhab dan masyarakat. Itu tidak berarti kehinaan atau ketundukan, namun menitikberatkan pada terciptanya kesan baik bagi masyarakat Islam ini. Karena itu, banyak kita dapati nash Ahlulbait as yang menekankan hal tersebut, di antaranya adalah sabda Imam  “Jadilah hiasan bagi kami dan jangan mencoreng muka kami!”

Dalam riwayat Ahlulbait as yang lain, mereka berkata “ Jangan kalian bicara dengan orang yang tidak memahami” maksudnya, kalian orang yang mengingkari amal dan kebiasaan karena menganggap bahwa semua itu tidak termasuk prinsip mendasar.

Riwayat ketiga mengatakan “ Allah SWT mengasihi seorang hamba yang berhasil menarik kecintaan orang kepadanya dan kepada kami”

Sesungguhnya memelihara kesan yang baik serta gambaran yang benar merupakan tujuan agung yang harus didahulukan selama tidak mengorbankan prinsip-prinsip. Boleh mengorbankan hal-hal yang bersifat adat, tradisi, dan perkara-perkara yang diperbolehkan untuk dikesampingkan demi manfaat yang lebih besar sebagaimana yang kita dapati dalam berbagai riwayat dan banyak nash dari Ahlulbait as.

 

Sumber

Ash-Shafar, Hasan Musa. 2017. Berjalan di Bawah Cahay Ahlulbait as. Bandung:YIMC

Check Also

Arbain Imam Husain as, antara Ritual Agama dan Wisata

Sejarah Ziarah Arbain Setelah Abu Abdillah al Husain as. beserta para pemuda Ahlul Bait dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *