Home / Sirah / Pelaknatan Bani Umayyah Kepada Imam Ali As Tercatat Dalam Berbagai Literatur Sejarah

Pelaknatan Bani Umayyah Kepada Imam Ali As Tercatat Dalam Berbagai Literatur Sejarah

Muawiyah adalah seorang yang sangat licik yang menggunakan segala cara untuk sampai pada tujuan. Ia menggunakan pelbagai cara seperti membuat hadis palsu, beramal secara lahir dan lain sebagainya sehingga ia mampu menyihir orang-orang bergabung bersamanya untuk melawan para penentangnya.

Salah satu cara propaganda Muawiyah adalah melaknat dan mencela. Sesuai dengan nukilan-nukilan sejarah, orang-orang bawahannya melaknat Ali As di hadapan masyarakat dan salat-salat Jumat. Sunnah pelaknatan ini dibuat oleh Muawiyah dan pada akhirnya Umar bin Abdulaziz menginstruksikan kepada jajaran bawahannnya untuk meninggalkan tradisi ini dan berhenti melaknat Imam Ali As.

eski terjadi perbedaan pendapat tajam di antara masyarakat Islam pasca wafatnya Rasulullah Saw, namun perbedaan ini tidak berujung pada perang dan pertumpahan darah. Konflik bersenjata pertama dimulai pada masa khalifah ketiga yang berujung pada terbunuhnya Usman bin Affan.

Peperangan pada masa Imam Ali As juga secara umum bersumber dari peristiwa itu dimana kelompok besar kaum Muslimin di bawah pemerintahan Imam Ali As yang menjadi khalifah sah kaum Muslimin berhadap-hadapan dengan Muawiyah yang merupakan gubernur Suriah yang berdalih ingin menuntut darah Usman kemudian mengklaim dirinya sebagai khalifah kaum Muslimin. Terjadi konflik dan adu kekuatan hebat di antara dua kelompok ini. Setelah kesyahidan Imam Ali As, Muawiyah yang menguasai medan seorang diri dengan pelbagai cara berhasil mempengaruhhi orang-orang di sekeliling Imam Hasan As dan pada akhirnya ia memproklamirkan dirinya sebagai khalifah kaum Muslimin.

Media terpenting Muawiyah dalam hal ini adalah menggunakan media propaganda. Ia menggunakan segala macam cara seperti membuat hadis palsu, beramal secara lahir dan lain sebagainya sehingga ia mampu menyihir orang-orang bergabung bersamanya untuk melawan para penentangnya.
Salah satu cara propaganda Muawiyah adalah melaknat dan mencela. Sesuai dengan nukilan-nukilan sejarah, orang-orang bawahannya melaknat Ali As di hadapan masyarakat dan salat-salat Jumat (yang merupakan media utama pada masa itu) sebagaimana yang akan disebutkan pada beberapa nukilan terlampir. Di samping itu, sebagian literatur menyebutkan bahwa Imam Hasan As dan Imam Husain As tidak lepas dengan muslihat ini dan keduanya juga mendapat laknat di mimbar-mimbar umum oleh antek-antek Muawiyah.[1] Menariknya, pada perang Shiffin, dua orang dari pasukan Imam Ali As, melaknat Muawiyah dan orang-orang Suriah, Imam Ali As, meski ia memandang benar perbuatan ini, melarang mereka melakukan hal itu.[2] Sebagai bandingannya, Muawiyah menyebarkan tradisi dengan melaknat Amirul Mukminin Ali As secara terang-terangan dan pada acara-acara umum. Tersebarnya tradisi keji ini, sedemikian hebat sehingga Imam Hasan As dalam perjanjian damainya dengan Muawiyah membuat persyaratan supaya Muawiyah tidak lagi melaknat Imam Ali As di mimbar-mimbar.[3]
Berikut ini kami lampirkan sebagain dokumen sejarah terkait dengan persoalan ini:
  1. Marwan bin Hakam memerintah selama enam tahun di Madinah dan ia melaknat Imam Ali di hadapan orang-orang dan pada setiap Jumat.[4]
  2. Hajjaj, mengumpulkan pembesar Kufah dan meminta mereka untuk mencela Imam Ali As.[5]
  3. Tatkala Ummu Salamah, istri Rasululah Saw berhadapan dengan celaan terhadap Imam Ali As, berkata, “Apakah kalian melaknat Rasulullah Saw?” Kemudian mengimbuhkan, “Sesungguhnya saya mendengar dari Rasulullah Saw barang siapa yang melaknat Ali maka ia telah melaknatku.”[6]
  4. Selagi orang-orang Hajjaj mencambuk Abdurrahman bin Abi Laila hingga kulitnya berubah menjadi legam, mereka memerintahkan, “Para pendusta! Laknatlah (Imam Ali)!”[7]
  5. Hajjaj menulis kepada wakilnya Muhammad bin Qasim, “Panggillah Athiyyah Aufa (salah seorang Syiah Kufah). Apabila ia melaknat Ali maka demikianlah seharusnya. Namun apabila ia menolak untuk melakukan itu maka cambuklah ia empat ratus kali dan pangkaslah rambut dan janggutnya.” Namun Athiyyah menolak melakukan hal itu dan pada akhirnya ia menerima empat ratus kali cambukan dan janggut dan rambutnya dicukur habis.[8]
Sesuai dengan nukilan-nukilan sejarah, orang-orang bawahannya melaknat Ali As di hadapan masyarakat dan salat-salat Jumat. Sunnah pelaknatan ini dibuat oleh Muawiyah dan pada akhirnya Umar bin Abdulaziz menginstruksikan kepada jajaran bawahannnya untuk meninggalkan tradisi ini dan berhenti melaknat Imam Ali As.[9]
Di akhir pembahasan ini, kami ingin mengutip satu cerita yang berkaitan dengan cara Bani Umayyah yang menunjukkan bagaimana Bani Umayyah sangat getol melakukan perbuatan ini dan bagaimana sebagian gubernur yang mencintai Ali As lari darinya:
Imam Ali As berkata kepada Hujr bin Adi, “Wahai Hujr! Apa yang akan kamu lakukan ketika engkau duduk di mimbar San’a dan diperintahkan untuk melaknatku dan berlepas diri dariku?”
“Saya berlindung kepada Allah Swt dari melakukan perbuatan ini.” Ujar Hujr bin Adi.
“Demi Allah! Peristiwa ini akan terjadi! Pada waktu itu maka engkau harus melaknatku namun jangan berlepas diri dariku.” Pungkas Imam Ali.
Setelah beberapa tahun, Hajjaj menjadi penguasa atas Hujr dan memerintahkan kepada Hujr untuk melaknat Imam Ali As. Ia naik ke atas mimbar dan berkata, “Wahai segenap manusia! Sesungguhnya pemimpin kalian ini memerintahkan Aku untuk melaknat Ali maka laknatlah ia, laknat Allah atasnya.”[10]

Hujr bin Adi menggunakan cara yang sangat cerdik kata ganti yang ada dan mengembalikan kata ganti itu kepada Hajjaj dan menghindari pelaknatan kepada Imam Ali As meski ia telah mendapat izin langsung dari Imam Ali As untuk melakukan hal itu. [iQuest]

Catatan Kaki
  1. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balâghah, Riset dan edit oleh Muhammad Abul Fadhl Ibrahim, jil. 15, hal. 256, Maktabah Ayatullah al-Mar’asyi al-Najafi, Qum, Cetakan Pertama, 1404 H.
  2. Abu Junaid Ahmad Daud Dainawari, al-Akhbâr al-Thiwâl, Riset oleh Abdul Mun’im Amir, Perujuk: Jamaluddin Syayyal, hal. 165, Qum, Mansyurat al-Radhi, 1368 S.
  3. Fadhl bin Hasan Thabari, I’lam al-Wara Bi’alam al-Huda, hal. 260, Muassasah Alu al-Bait As, Qum, Cetakan Pertama, 1417 H; Syaikh Mufid, al-Irsyad fi Ma’rifat Hujajullah ‘ala al-‘Ibad, jil. 2, hal. 14, Kongre Syaikh Mufid, Qum, Cetakan Pertama, 1413 H; Ali bin Isa Arbali, Kasyf al-Ghummah fi Ma’rifat al-Aimmah, Riset dan edit oleh Hasyim Rasuli Mahallati, jil. 1, hal. 515, Nasyr Bani Hasyimi, Cetakan Pertama, 1381 H.
  4. Ismail bin Umar, Ibnu Katsir Dimasyqi, al-Bidayah wa al-Nihayah, jil. 8, hal. 259, Dar al-Fikr, Beirut 1407 H; Muhammad bin Ahmad Dzahabi, Tarikh al-Islam, Riset oleh Umar Abdussalam Tadmiri, jil. 4, hal. 228, Dar al-Kitab al-‘Arabi, Beirut, Cetakan Kedua, 1409 H; Ibnu Sa’ad Katib Waqidi, al-Thabaqat al-Kubra, Riset oleh Muhammad Abdulqadir ‘Atha, jil. 1, hal. 399, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Cetakan Pertama, 1410 H.
  5. Syaikh Thusi, al-Amali, hal. 620, Dar al-Tsaqafah, Qum, Cetakan Pertama, 1414 H.
  6. Al-Bidayah wa al-Nihayah, jil. 7, hal. 354; Qadhi Nu’man Maghribi, Syarh al-Akhbar fi Fadhail al-Aimma al-Athhar As, jil. 1, hal. 167, Daftar Intisyarat Islami, Qum, Cetakan Pertama, 1409 H.
  7. Ahmad bin Yahy Baladzuri, Ansab al-Asyraf, Riset oleh Suhail Zukar dan Riyadh Zirkili, jil. 7, hal. 383, Dar al-Fikr, Beirut, Cetakan Pertama, 1417 H.
  8. Khairuddin Zirkili, al-A’lam, jil. 4, hal. 237, Dar al-‘Ilm lil Malayin, Beirut, Cetakan Kedelapan, 1989 M.
  9. Ali bin Muhammad Ibnu Atsir Jarzi, al-Kamil fi al-Tarikh, jil. 5, hal. 42, Dar Shadir, Beirut, 1385 H; Abdurrahman bin Muhammad Ibnu Khaldun, Diwan al-Mubtada wa al-Khabar fi Tarikh al-‘Arab wa al-Barir wa Man ‘Asharahum min Dzawi al-Sya’n al-Akbar (Tarikh Ibnu Khaldun), Riset oleh Khalil Syahadah, jil. 3, hal. 94, Beirut, Dar al-Fikr, Cetakan Kedua, 1408 H.
  10. Ibnu Syahr Asyub Mazandarani, Manaqib Alu Abi Thalib As, jil. 2, hal. 269, Intisyarat Allamah, Qum, Cetakan Pertama, 1379 H; Sayid Hasyi bin Sulaiman Bahrani, Madinah al-Ma’ajiz al-Aimmah al-Itsna ‘Asyr, jil. 2, hal. 182, Muassasah al-Ma’arif al-Islamiyah, Qum, Cetakan Pertama, 1413 H.

Check Also

Manipulasi Sejarah Berkenaan dengan Usia Sayidah Khadijah Ketika Menikah dengan Nabi SAW (1)

Yang kita dapati dalam kitab Shahih Bukhari misalnya, Aisyah meriwayatkan lebih dari 2000 hadits dari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *