Home / Sirah / Para Penentang Saqifah

Para Penentang Saqifah

Pada peristiwa Saqifah, sangat alamiah bila ada kelompok-kelompok. Hal itu diperkuat dengan ketidaklayakan sikap orang yang terpilih sebagai khalifah.

Dalam peristiwa Saqifah ada tiga kelompok:

Anshar

Kaum Anshar termasuk kelompok politik yang berpengaruh. Dari sisi kuantitas, mereka memiliki jumlah yang tidak kecil. Oleh karenanya, kaum Anshar perlu mendapat perhitungan yang serius sebagai kandidat dalam pemilihan. Mereka tidak setuju dengan khalifah terpilih dan pendukungnya di Saqifah Bani Saآidah. Sempat terjadi adu mulut yang cukup alot yang berakhir dengan kemenangan Quraisy. Abu Bakar dan pendukungnya mendapat keuntungan dalam menghadapi Anshar dari dua sisi:

  • Mengkristalnya pemikiran pewarisan agama dalam benak bangsa Arab. Dan hal itu dapat ditelusuri dari ucapan yang mengatakan bahwa Quraisy masih serumpun dengan Nabi dan lebih dekat dibandingkan dengan suku lainnya. Dengan alasan ini, mereka merasa lebih layak ketimbang kaum Muslim yang lain dan selanjutnya, yang paling layak menjadi khalifah adalah dari Quraisy.
  • Kaum Anshar sendiri tidak memiliki satu pendapat. Suara mereka terpecah antara yang mendukung Abu Bakar dan yang menentangnya. Alasan perpecahan mereka dapat ditafsirkan dengan mengakarnya pemikiran kesukuan dan kedengkian antara satu dengan yang lain, atau sebuah upaya untuk lebih dekat dengan khalifah terpilih dari Quraisy. Pemikiran ini tampak dalam ucapan Usaid bin Hudhair di Saqifah, “Bila kalian menjadikan Said sebagai khalifah, kekhalifahan akan senantiasa bersama kalian, Namun diperhatikan! Bahwa Saآd tidak akan membagi-bagikan kekuasaan ini dengan kalian selama-lamanya. Sekarang, bangkitlah dan Baiatlah Abu Bakar!

Pertemuan Saqifah sendiri memberi kekuatan kepada Abu Bakar dari dua sisi:

  • Melemahnya peran Ali bin Abi Thalib dalam mengarahkan suku-suku karena Anshar adalah kekuatan yang tidak mungkin berada di barisan Ali bin Abi Thalib pasca Saqifah, apa lagi membela dan membantu Ali untuk merebut kekhalifahan.
  • Munculnya Abu Bakar sebagai satu-satunya pembela hak-hak kaum Muhajirin secara keseluruhan dan Quraisy secara khusus di tengah-tengah kaum Anshar.Kondisi saat itu memang sangat mendukung, karena tidak adanya kelompok dari Muhajirin sendiri yang dapat mencegah mereka meraih tujuan yang telahdirencanakan sebelumnya.

 

Bani Umayah

Keturunan Umayah memiliki ambisi yang luar biasa besar akan kekuasaan. Dari kejadian ini, mereka berharap dapat memperoleh posisi dan mengembalikan segalanya seperti di zaman Jahiliah. Bani Umayah dipimpin oleh Abu Sufyan. Abu Bakar dan kelompoknya telah melakukan kerjasama dengan Bani Umayah, karena tahu betul keinginan-keinginan mereka, baik secara politis maupun material. Sangat mudah bagi Abu Bakar untuk kemudian tidak mengindahkan sebagian prinsip dan hukum-hukum syariat lalu memberikannya kepada Abu Sufyan. Abu Bakar memberikan kepada Abu Sufyan sebagian harta dan hasil zakat kaum Muslim yang dikumpulkannya sejak ia ditugaskan oleh Nabi. Pada sisi yang lain, kelompok yang menang di Saqifah tidak menunjukkan ketidaksukaan mereka kepada Bani Umayah dan tidak menekan Abu Sufyan atas apa yang diucapkannya sebagai pendukung Ali bin Abi Thalib dan Bani Hasyim. Tidak itu saja. Abu Bakar dan kelompoknya malah memanfaatkan Bani Umayah untuk melemahkan peran Bani Hasyim, mulai sejak itu hingga masa-masa yang akan datang. Abu Bakar dan kelompoknya memberikan posisi posisi penting dalam pemerintahan kepada Bani Umayah.

Bani Hasyim dan beberapa sahabat pengikut mereka

seperti Ammar bin Yasir, Salman Farisi, Abu Dzar Ghiffari dan Miqdad dan sejumlah besar sahabat yang memandang keluarga Hasyim sebagai yang layak memiliki legitimasi dari syariat untuk menjadi khalifah. Bani Hasyim adalah pewaris Rasulullah saw dengan dukungan naswahyu di peristiwa Ghadir Khum. Mereka tidak tunduk pada argumentasi-argumentas lemah yang disampaikan para pendukung Saqifah. Mereka melihat para pendukung Saqifah bagaikan kumpulan kepentingan-kepentingan yang mencoba untuk menguasai dan mengeksploitasi kekuasaan demi memenuhi hasrat dan kerakusan, dan sebagai sebuah upaya untuk menyesatkan perjalanan dan eksperimen Islam dari jalannya yang sah dan benar.

 

Hasil-hasil Saqifah

Abu Bakar dan kelompoknya telah menjadi pemenang dalam menghadapi Anshar dan Bani Umayah. Kekhalifahan telah jatuh di tangan mereka. Namun, kemenangan ini tidak sesederhana yang dibayangkan. Karena setelah itu, muncul masalah yang lebih besar tentang pertikaian. Tentunya ini bermula dari argumentasi mereka untuk meraih kursi kepemimpinan yang bertumpu pada kesukuan dan kekerabatan dengan Rasulullah saw. Atas dasar inilah, tidak salah bila pasca Saqifah muncul mazhab rasialis dan keturunan dalam kepemimpinan agama.

Keberadaan Bani Hasyim sebagai kelompok yang menentang proses Saqifah mampu membalikkan situasi. Mereka berargumentasi dalam menghadapi kelompok Saqifah dengan alasan yang sama yang dipakai Abu Bakar dan kelompoknya ketika menghadapi kaum Anshar. Argumentasi itu demikian; bila Quraisy merasa lebih layak dan dekat dengan Rasulullah dari sekian kabilah-kabilah Arab, maka Bani Hasyim lebih tepat dan layak untuk memegang tampuk kekhalifahan dibandingkan dengan kelompok Quraisy lainnya.

Argumentasi inilah yang diangkat oleh Ali bin Abi Thalib ketika ia berkata, “Kaum Muhajirin berargumentasi dengan kedekatan mereka dengan Rasulullah saw. Ini juga argumentasi kami terhadap kaum Muhajirin. Bila argumentasi yang dipakai adalah kedekatan hubungan kekeluargaan, maka itu dapat benar atas yang lain, tidak atas kami, Bani Hasyim. Bila argumentasi mereka juga berlaku atas kami, maka kaum Anshar tetap kuat dengan klaimnya.”

Abbas juga menjelaskan hal yang sama dalam obrolannya dengan Abu Bakar, “Ucapanmu ketika di Saqifah bahwa kami serumpun dengan Rasulullah saw, sesungguhnya kalian hanya tetangga sedangkan kami adalah rantingnya.

Pada intinya, Ali bin Abi Thalib adalah sumber ketakutan bagi mereka yang bermain di Saqifah. Ali adalah satu-satunya penghalang yang mampu melenyapkan semua ambisi yang selama ini terpendam. Ali mampu menahan tangan-tangan yang bermain di Saqifah, dan jumlah mereka sangat banyak; yaitu orang-orang yang pada umumnya ikut ke mana angin bertiup tanpa memiliki identitas, ikut berteriak bersama mereka yang menjual suaranya di bursa kekuasaan politik. Mereka adalah orang-orang yang ingin mengenyangkan perut-perut mereka sepeninggal Nabi dengan harta khumus (seperlima dari harta pampasan perang) dan hasil perkebunan Madinah, begitu juga tanah subur Fadak (tanah milik Nabi yang diwariskan kepada putrinya Sayidah Fathimah Zahra as).

Ali bin Abi Thalib enggan menjadi khalifah dengan tujuan-tujuan hina semacam itu atau demi ketenaran pribadi. Dari sisi lain, ia berusaha untuk berargumentasidi hadapan tokoh-tokoh penting Saqifah dengan prinsip yang sama; yaitu kedekatan keluarga. Argumentasi yang pada gilirannya menjadi koin keberuntungan di tangan Ali dengan ucapannya, “Mereka berargumentasi dengan pohon (kedekatan mereka dengan Nabi), namun pada saat yang sama mereka lupa akan buah dari pohon itu.”

Sebagian besar masyarakat Islam masih mengutamakan Ahlulbait Nabi dan menghormati mereka, karena mereka adalah buah dari pohon kenabian yang pada gilirannya, kekuasaan politik memasuki masa paling kritis yang tidak ada jalan keluarnya. Untungnya, Ali adalah seorang pribadi yang lebih mulia dari sekedar perebutan kekuasaan. Ia lebih mengedepankan maslahat umat Islam ketimbang kepentingan pribadinya sebagai penguasa yang sah yang mendapat legitimasi langsung dari Nabi.

Untuk mengantisipasi kemungkinan Ali bin Abi Thalib menggoyahkan rencana yang telah dijalankan, kelompok Saqifah berada dalam keraguan di antara dua sikap:

  1. Meninggalkan prinsip kedekatan kekeluargaan sebagai argumentasi utama untuk menjadi khalifah. Namun ini sama dengan mengabaikan legitimasi wahyu atas kekhalifahan Abu Bakar yang telah direbutnya sejak peristiwa Saqifah.
  2. Memerkuat dan menegaskan kembali prinsip-prinsip yang telah diperjuangkan sejak Saqifah (dengan dalih kedekatan kekerabatan) dalam menghadapi kelompok kelompok penentang. Sosialisasi harus dilakukan sehingga hak Bani Hasyim sekaitan dengan kepemimpinan dan kekhalifahan tidak lagi menjadi sesuatu yang penting, sekalipun kekerabatan mereka termasuk yang paling dekat dengan Nabi. Sekalipun kekhalifahan masih merupakan hak Bani Hasyim, namun itu tidak pada saat-saat masyarakat menyepakati pemerintahan yang telah terbentuk.

Tampaknya, kemungkinan kedua menjadi pilihan yang lebih menguntungkan pemerintahan yang ada.

Check Also

Manipulasi Sejarah Berkenaan dengan Usia Sayidah Khadijah Ketika Menikah dengan Nabi SAW (1)

Yang kita dapati dalam kitab Shahih Bukhari misalnya, Aisyah meriwayatkan lebih dari 2000 hadits dari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *